Sample text

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Popular Posts

About Me

Foto saya
LAHIR 20 AGUSTUS 1988 MENYELESAIKAN PROGRAM PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA DI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAKASSAR

Followers

Featured Posts

RSS

Pages

STUDI PENGEMBANGAN DESA KANREAPIA SEBAGAI DESA WISATA AGRO DI KECAMATAN TOMBOLOPAO KABUPATEN GOWA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
            Pengembangan pariwisata di Indonesia pada dasarnya menggunakan konsep pariwisata. Hal ini di lakukan dengan pertimbangan bahwa Indonesia memiliki potensi wisata yang beraneka ragam yang tersebar pada tiap daerah  tujuan wisata yang ada di Indonesia. jadi pariwisata yang di kembangkan adalah pariwisata budaya dan pariwisata alam . dalam hal ini pariwisata alam yang beraneka ragam yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia ini di jadikan sebagai salah satu daya tarik utama untuk menarik wisatawan datang berkunjung ke Negara kita.
      Atas dasar itu kiranya wajar kalau setiap langkah dalam pengembangan pariwisata di harapkan selalu  memperhatikan terpeliharanya objek wisata alam yang di jadikan sebagai asset pariwisata di Indonesia. Dengan  demikian perlu ada tanggung jawab bagi mereka yang mengambil keputusan kebijakan di lapangan.
      Dalam hal ini tujuan utama pengembangan pariwisata sebagai suatu industry sebenarnya adalah untuk meningkatkan devisa. Indonesia sebagai suatu Negara yang sedang membangun sangat membutuhkan devisa untuk mengimpor barang-barang modal. Barang-barang konsumsi yang sementara ini belum diproduksi di dalam negeri .maka dari itu pengembangan pariwisata di Indonesia di perlukan sebagai suatu industry dan di harapkan dapat berfungsi sebagai katalisator dalam pembangunan dan padat menunjang pembangunan berkelanjutan.
      Namun dalam proses pencapaian semuanya itu dalam perjalanannya terjadi hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian bagi pengembangan pariwisata itu sendiri, yaitu dengan munculnya dampak negative seperti misalnya dampak terhadap seni dan budaya dampak terhadap kehidupan social dampak terhadap perekonomian dampak terhadap lingkungan hidup dan terjadinya kebocoran yang dapat mengurangi perolehan devisa.
Dalam studi pengembangan potensi objek wisata secara berkelanjutan Bila pengembangan dan implementasi yang konsisten tidak dilakukan, besar kemungkinannya perkembangan wisata akan menghancurkan sumber daya tariknya dan menjadi tidak berkelanjutan .Kunci untuk memecahkan masalah wisata adalah dengan membuat industri wisata sadar akan pentingnya menyatukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan pada perencanaan pengembangan dan operasi
bertambahnya kunjungan yang terus menerus seharusnya tidak lagi menjadi kriteria utama untuk pengembangan wisata. Yang diperlukan adalah pendekatan pengembangan wisata yang integratif yang bertujuan  memproteksi lingkungan, menjamin bahwa wisata menguntungkan penduduk lokal dan membantu pelestarian warisan budaya di negara tujuan wisata.
      Dalam  rangka  pengembangan pariwisata daerah terutama pada objek wisata alam perlu adanya pemeliharaan lingkungan hidup .karena dalam ha pengembangan pariwisata alam, masalah lingkungan hidup tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah daerah saja tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak dan bahkan tanggung jawab semua masyarakat yang hidup di muka bumi. Tidak  ketinggalan  wisatawan yang sedang melakukan perjalanan wisata ke beberapa daerah tujuan wisata.
      Biasanya yang menjadi objek kunjungan orang-orang melakukan perjalanan wisata khususnya bagi orang-orang yang termasuk golongan menengah ke atas adalah mereka yang berpendidikan pengusaha mahasiswa dan pelajar objek yang menjadi incaran untuk dikunjungi biasanya adalah daerah pantai, alam pegunungan danau, sungai ,atau objek seni budaya serta taman-taman rekreasi lainnya.
      Maka dari itu melihat potensi pariwisata di Indonesia khususnya di provinsi Sulawesi selatan yang cukup besar dengan objek wisata yang beraneka ragam maka kami akan mengkaji pengembangan objek wisata agro yang terletak di desa kanreapia kecamatan Tombolopao kabupaten Gowa.
     Kecamatan Tombolopao merupakan wilayah administrasi dari kabupaten Gowa,  dengan luas wilayah keseluruhan adalah 251,82 Km2 dan jarak dari Ibu kota Kabupaten (Sungguminasa) yaitu 96 Km. Jumlah  penduduk  kecamatan  Tombolopao  sebesar  26.938  jiwa  yang terdiri dari laki-laki sebesar 13.417 jiwa dan perempuan sebesar 13.521 jiwa  dengan mayoritas mata pencarian penduduknya umumnya berfropesi sebagai petani utamanya  petani  sayuran  dan  perkebunan,  sedangkan  sektor  non  pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.
Kecamatan Tombolopao merupakan salah satu kecamatan yang terletak di dataran tinggi di kabupaten Gowa atau berada di daerah pegunungan. Kecamatan Tmbolopao terletak pada  di ketinggian antara 1.500 - 1.650 Meter di atas permukaan laut. Ditinjau dari  segi kemiringan lereng desa Kanreapia sebagian besar berada pada kemiringan lereng 8 – 40 %, atau sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan.
Jika di lihat dari keadaan dan letak geografis Kecamatan Tombolopao khususnya Desa kanreapia maka dapat di kembangkan sebagai objek wisata agro Potensi objek wisata tersebut merupakan daerah wisata agro yang berupa pegunungan, perbukitan yang dimana mata pencaharian masyarakatnya berasal dari hasil pertanian dan perkebunan maka dari itu studi pengembangan Desa Kanreapia menuju desa wisata agro ini di maksudkan agar potensi hasil agro yaitu pertanian dan perkebunan yang terdapat di desa Kanreapia seperti buah-buahan yang berupai buah strowberi, markisa,  alvokad  dll dan berbagai macam jenis sayur-sayuran dapat dilestarikan dan di kembangkan sebagai salah satu daya tari utama pariwisata agro sehingga Desa Kanreapia memiliki potensi agro yang cukup baik untuk di kembangkan sebagai pariwisata agro selain itu desa wisata kanreapia dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat setempat dengan dijadikannya Desa wisata agro sehingga dengan demikian Desa Kanreapia dapat berkembang baik dari segi perdagangan maupun dari segi pariwisata nya.
Hikmah yang dapat di petik dari studi wisata agro yang ramah lingkungan yang dalam kaitannya dengan pelestarian  lingkungan serta pemeliharaan tumbuh-tumbuhan yang di mana setiap daerah di bumi jarang di temukan. Selain itu juga jika di di bandingkan udara di kota dan di Desa jauh lebih segar dan murni oksigen yang di hasilkan oleh tumbuh-tumbuhan yang ada di Desa.
Dalam agama islam di jelaskan tentang pemeliharaan lingkungan, tentang bagaimana mensyukuri nikmat Allah dengan tidak merusak lingkungan dan memakan makanan yang halal yang tumbuh dari tanah dan disirami oleh air hujan yang diturunkan ke bumi oleh Allah sebagai pelengkap untuk menyuburkan tanam-tanaman. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam alqur;an yaitu surah Alqur’an  (al-hijr 19-22)  yaitu                        
      Dalam firman Allah disebutkan pemanfaatan potensi alam yaitu:
            Dalam Alqur’an  (al-hijr 19-22) di sebutkan bahwa bagaimana Allah telah menciptakan bumi ini dengan segala kebesarannya menciptakan tumbuh-tunbuhan agar manusia bisa mencari rezki mereka maasing-masing dan Allah juga menurunkan hujan dan menciptakan angin  sebagai pelengkap untuk tumbuh-tumbuhan.
            uÚöF{$#ur $yg»tR÷ŠytB $uZøŠs)ø9r&ur $ygŠÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. &äóÓx« 5brãöq¨B ÇÊÒÈ   $uZù=yèy_ur ö/ä3s9 $pkŽÏù |·ÍŠ»yètB `tBur ÷Läêó¡©9 ¼çms9 tûüÏ%κtÎ/ ÇËÉÈ   bÎ)ur `ÏiB >äóÓx« žwÎ) $tRyYÏã ¼çmãYͬ!#tyz $tBur ÿ¼ã&è!Íit\çR žwÎ) 9ys)Î/ 5Qqè=÷è¨B ÇËÊÈ   $uZù=yör&ur yx»tƒÌh9$# yxÏ%ºuqs9 $uZø9tRr'sù z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB çnqßJä3»oYøŠs)ór'sù !$tBur óOçFRr& ¼çms9 tûüÏRÌ»sƒ¿2 ÇËË
artinya
.           Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan  padanya segala sesuatu menurut ukuran.20. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan  pemberi rezki kepadanya. 21. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya[795]; dan Kami tidak menurunkan nya melainkan dengan ukuran yang tertentu.22. Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinikan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum  kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.
[795] Maksudnya segala sesuatu itu sumbernya dari Allah s.w.t.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang kami paparkan diatas maka dapat di tarik rumusan masalah dalam pengembangan Desa Wisata Agro Kanreapia di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa yaitu: Bagaimana Strategi pengembangan Desa wisata Agro Kanreapia di Kecamtana Tombolopao Kabupaten Gowa
C. Ruang Lingkup Penelitian
            Dalam hal penelitian ini mengingat masalah yang  di kaji sangat luas, sehingga perlu di berikan batasan masalah dalam ruang lingkup pembahasan. Untuk memperjelas arah dari rumusan masalah yang yang telah  di kemukakan di atas. Adapun ruang lingkup batasan masalah dalam hal ini hanya di fokuskan pada Desa Kanreapia yang di mana desa tersebut terdiri dari  yang berada 7 Dususn di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa untuk mengetahui strategi pengembangan Desa Wisata Agro Kanreapia di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
D. Defenisi Operasional
1.      Studi adalah adanya pelajaran atau riset/ kegiatan penelitian atau penyelidikan
2.      Pengembangan adalah memajukan atau memperbaiki atau meningkatkan sesuatu yang sudah ada:
3.      Desa wisata adalah Desa yang memiliki objek Wisata, yang bersifat peninggalan sejarah (Istana, benteng, adat istiadat dan rumah adat) pemandangan alam yang indah dan lain-lain serta kegiatan-kegiatan lainnya yang menunjang dan terkait
4.      Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata
5.      Agro adalah kegiatan yang berbasis pertanian










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Umum
             Pada umunya defenisi Wisata menurut Marhiesen dan wall, 1982 adalah suatu kegiatan bepergian dari dan ketempat tujuan di luar tempat tujuan di luar tempat di luar tempat tinggal (Fandeli Chafiud , 1995 :-14)
            Wisata Pedesaan secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan pariwisata yang terjadi di kawasan pedesaan. Secara konseptual pengertian tersebut hendaknya di pahami mengandung pengertian bahwa yang akan dinikmati oleh wisatawan adalah suasana Pedesaan dengan segala aspek kehidupannya dan bukan dalam pengertian membangun berbagi macam saran-saran modern atau memindahkan fasilitas-fasilitas perkotaan ke Desa yang di miliki dengan daya tarik Wisata konsep ini secara akademik, sejalan dengan konsep wisata ekologi(ecotourism) yang didefinisikan sebagai perjalan ke suatu lingkungan yang relatif belum terganggu atau terkontaminasi dengan tujuan spesifik, mempelajari mengagumi dan menikmati pemandangan kehidupan flora dan fauna serta segala bentuk manifestasi masyarakat.  (Buletin Tata Ruang)
            Sedangkan menurut undang–undang No. 9. 1990. Tentang kepariwisataan, Bab I : bahwa wisata adalah sebahagian dari kegiatan atau perjalanan tersebut yang di lakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik Wisata
            Pada dasarnya Wisata Agro yaitu merupakan sektor primer (sektor pertanian) disektor tersier (sektor pariwisata) yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pendapatan petani. Petani dan sektor pertanian akan mendapat ke untungan dari aktivitas Wisata Agro. Wisata Agro juga mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan menghindarkan sektor pertanian dari proses menginalisasi.
            Secara umum Agro Wisata mengandung pengertian suatu kegiatan perjalanan atau wisata yang dipadukan dengan aspek-aspek kegiatan pertanian pengertian ini mengacu pada unsur rekreatif yang memang sudah menjadi ciri kegiatan wisata unsur pendidikan dalam kemasan paket wisata nya secara unsur sosial ekonomi dalam pembangunan pertanian dan Pedesaan dari segi substansi nya kegiatan Wisata Agro lebih menitip beratkan pada upaya menampilkan kegiatan pertanian dan suasana pedesaan sebagai daya tarik utama wisata nya tanpa mengabaikan segi kenyamanan nya
            Wisata Agro merupakan salah satu jenis yang memanfaatkan usaha pertanian (Agro) sebagai objek wisata dan memadukan antara kegiatan pertanian dan kegiatan wisata. Wisata Agro bukan semata merupakan usaha yang menjual jasa bagi pemenuhan kebutuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian, menjadi media pendidikan bagi masyarakat mulai dari pendidikan tentang kegiatan usaha di bidang pertanian sampai kepada pendidikan tentang kelestarian dan ke harmonisa alam. Hal ini memberikan sinyal bagi peluang pengembangan diversifikasi  produk agrobisnis yang berarti pula dapat menjadi kawasan pertumbuhan baru wilayah (koswara 2005)
            Pada dasarnya Wisata Agro merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan sumberdaya alam suatu daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata. Daerah perkebunan, sentra  penghasil sayuran tertentu dan wilayah Perdesaan berpotensi besar menjadi objek Agrowisata. Potensi yang terkandung   tersebut harus dilihat dari segi lingkungan alam, letak geografis, jenis  produk, atau komoditas pertanian yang dihasilkan, serta sarana dan prasarananya (Sumarwoto, 1990).
            Pengembangan  Agro wisata  pada hakikatnya merupakan upaya terhadap pemanfaatan potensi atraksi wisata pertanian. Berdasarkan  Surat  Keputusan (SK) bersama antara Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dan Menteri Pertanian No. KM.47/PW.DOW/MPPT-89 dan No. 204/KPTS/HK/050/4/1989 agrowisata sebagai bagian dari objek wisata, diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata diberi batasan sebagai wisata  yang memanfaatkan objek-objek pertanian (Tirtawinata dan Fachruddin, 1996).
            Sementara itu, ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa Wisata Agro adalah usahatani yang pemasarannya berorientasi pada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan pariwisata. Misalnya usaha  penggemukan sapi atau budidaya sayur-sayuran yang pemasaran hasilnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hotel atau restoran yang melayani wisatawan. Di sini teknologi yang diterapkan adalah teknologi usahatani yang dapat mencapai mutu produksi sesuai  dengan  permintaan hotel atau restoran.  Jadi, agrowisata merupakan salah satu bentuk kegiatan Agribisnis.oleh
            Konsep dari wisata desa adalah salah satu dari home stay atau paying guets dengan penekanan pada interaksi dan tinggal bersama dengan komunitas lokal. Wisata desa menawarkan kepada wisatawan suatu kesempatan untuk ikut merasakan kebudayaan, adat istiadat dan kehidupan sehari-hari rumah tangga tuan rumah ( penduduk Desa yang menyediakan akomodasi bagi wisatawan tersebut) dan kehidupan komuditas Desa (banskota dan sperma 1999)
Ssitus internet yang  berjudul  rural Tourisent – The Inpact On Rural Ccommunities II Thailand. Wisata desa dianggap sebagai perpaduan antara pembangunan desa (Rural Development) dan pembangunan yang berkelanjutan (Ssustainable Development) dalam Situs tersebut Webster mendefinisikan pembangunan Desa sebagai suatu proses yang mengacu pada peningkatan atas kapasitas warga Desa untuk mengontrol lingkungannya, yang di Timbulkan lebih banyak pemanfaatannya secara meluas terhadap keuntungan yang menjamin pengontrolan itu sendiri sedangkan Villicirs juga dalam Situs yang sama memandang pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) sebagai suatu cara untuk meningkatkan untuk meningkatkan taraf hidup yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai potensi yang di miliki. Untuk menikmati hidup yang lebih layak dan untuk menjamin kesejahteraan hidup saat sekarang dan generasi yang  akan datang
            Pariwisata Agro (Agro Tourisem = Rural Farm Tourisem) Pariwisata Agro merupakan perjalanan untuk meresapi  dan mempelajari kegiatan pertanian, perkebunan peternakan, kehutanan jenis wisata ini bertujuan untuk mengajak wisatawan untuk ikut memikirkan sumber daya lam dan kelestariannya. wisatawan tinggal bersama keluarga petani atau tinggal di perkebunan untuk ikut merasakan kehidupan dan kegiatannya (Pro.Dr.RAHARDJO ADISASMITA, M,Ec 1981 Pembangunan Kawasan Dan Tata Ruang)      
            Agro Wisata adalah  Pengembangan  usaha pertanian dan perkebunan yang di samping tetap berproduksi di kembangkan menjadi kawasan wisata alam tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai lahan pertanian produktif           
            Dari uraian rumusan masalah di atas maka dapat di ketahui tujuan dan sasaran dari penelitian tersebut yaitu: Adapun tujuan dari pengembangan wisata agro yaitu:
a.       Tujuan
·         Untuk mengetahui strategi pengembangan Desa Wisata Agro kanreapia di Kecamatan Tombolopao kabupaten Gowa
b.      Sasaran
·         Untuk mengembangkan wisata agro di daerah pedesaan di butuhkan pemberdayaan masyarakat pelestarian lingkungan kawasan sekitar, peruntukan sarana dan prasarana kawasan wisata, pelatihan penanaman khusus bagi petani dalam pembibitan bibit unggul serta peningkatan perekonomian masyarakat.
2. . Ciri Desa Wisata Agro
            Dalam hal ini dapat di uraikan ciri-ciri Desa Wisata Agro yaitu sebagai berikut : suatu Desa Agro yang sudah berkembang harus memiliki ciri-ciri yaitu:
·         Sebagian besar masyarakat di desa tersebut bergerak di bidang pertanian atau Agribisnis yang utuh
·          sistem usaha tani pertanian yang mencakup usaha tanaman pangan, holtikultura , pertanian, peternakan, perkebunan dan kehutanan
·          sistem jasa-jasa penunjang (kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis) seperti: perkreditan, asuransi, transportasi, penelitian dan pengembangan, pendidikan, penyuluhan, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah
·         Kehidupan masyarakat di Desa Agro sama dengan suasana kehidupan di perkotaan, karena  infrastruktur yang ada di Desa Agro diusahakan tidak jauh berbeda dengan di Kota.
·         Desa wisata Agro yang bergerak di bidang pertanian yang dapat dibudidayakan dan mempunyai keunikan lokal tersendiri untuk dapat di kembangkan sebagai Desa Wisata Agro
·         Kegiatan sebagian besar masyarakat di Desa tersebut didominasi oleh kegiatan pertanian atau agribisnis, termasuk didalamnya usaha industri (pengolahan) pertanian, perdagangan hasil-hasil pertanian (termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor), perdagangan agribisnis hulu (sarana pertanian dan permodalan), Agrowisata dan jasa pelayanan.
·         Adanya keterkaitan antara Kota dengan Desa (urban-rural linkages) yang bersifat interdependensi/timbal balik dan saling membutuhkan, dimana kawasan pertanian di perdesaan mengembangkan usaha budi daya (on farm) dan produk olahan skala rumah tangga (off farm), sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budi daya dan agribisnis seperti penyediaan sarana pertanian antara lain: modal, teknologi, informasi, peralatan pertanian dan lain sebagainya.
sumber
3. . Syarat-Syarat Wisata Agro
            Suatu Desa dapat dikatakan sebagai Desa Agro apabila sudah memenuhi syarat yaitu sebagai berikut:
  • Memiliki sumberdaya lahan dengan Agroklimat yang sesuai untuk mengembangkan komoditi pertanian khususnya pangan, yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (selanjutnya disebut komoditi unggulan).
  • Desa yang Memiliki prasarana dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan Wisata agro khususnya pangan, seperti misalnya: jalan, sarana irigasi/pengairan, sumber air baku, pasar, terminal, jaringan telekomunikasi, fasilitas perbankan, pusat informasi pengembangan wisata Agro lainnya serta sarana produksi pengolahan hasil pertanian, dan fasilitas umum serta fasilitas sosial lainnya.
·         Pasar, untuk hasil-hasil pertanian, pasar sarana pertanian, alat dan mesin pertanian, maupun pasar jasa pelayanan termasuk pasar lelang gudang tempat penyimpanan dan prosessing hasil pertanian sebelum dipasarkan
sumber
4.  . Tipologi Desa Agro
Seperti yang di uraikan di atas adapun ciri dan jenis tipologi desa (agribisnis, agroindustri dan pariwisata)
Ciri-ciri
Jenis Tipologi Desa
Agrobisnis
Agroindustri
Pariwisata
Aspek kegiatan
Tanaman pangan
-   Holtikultura
-   Perkebunan
-   Perikanan
-   Peternakan
-   Kehutanan
Industri
-   tepung beras
-   makanan ternak
-   penggilingan padi
-   dll
Ojek wisata
-   peninggalan sejarah
-   budaya
-   pemandangan indah
1.Oreantasi
--  hasil mentah
Kualitas produk tetap
-   pengelolaan pasca panen ((nilai tambah)
-   jasa bersifat konstan
2. Oreantasi produksi dan skala produksi
- Tersebar mendekati lokal
- Skala produksi kecil
- Tidak elastis terhadap perubahan harga
- lokasi pada pusat
Skala produksi kecil  suplainya in elastis
-   Lokasional
-   Untuk pasar lur
3. Oreantasi usaha
-Dari waktu ke waktu di pengaruhi musim
-Individual
-   Pengelolaan bahan baku
-   Keterkaitan antara sektor
-   Kurang terpengaruh musim
-   Usaha kecil
-   Daya tarik objek
-   Aksesibilitas
-   Pelayanan di kelolah oleh usaha wisata
4. Oreantasi pemasaran
- tingkat desa
- beberapa desa
- pengunjung dari luar
5. Keterkaitan antara sektor
- forward ingkage
- beckward and forward ingkage
Internasional/  nasional / regional
6. Target usaha
- asal dapat memenuhi kebutuhan keluarga
- menciptakan hal tambah dan laba yang tidak tinggi
- di kelolah secara bisnis dan komersial
7. Penerapan teknologi
- sistem pertanian sederhana walaupun telah menggunakan prasarana dan sarana produksi pertanian
- teknologi tepat guna
- teknologi seni dan budaya
8. SDM
- tingkat pendidikan rendah
- sudah memiliki keterampilan meskipun masih sederhana
- telah memiliki pengalaman menerima tamu dari luar
9. Kelembagaan
a.masyarakat
b. ekonomi
- sudah terbentuk (mis, p3a, dan KUD) tetapi kegiatannya optimal
- lebih terarah pada kepentingan sosial
- sudah berperan secara aktif
10. Partisipasi masyarakat
- cukup besar tetapi kurang menunjang peningkatan produksi
- diarahkan kepada kegiatan produksi pengelolaan
-menunjang secara positif
sumber
Seperti di uraikan di atas salah satu tipologi desa dapat di lakukan dengan memperkaitkan antara tingkat kemakmuran yang mencerminkan oleh tingkat pendapatan perkapita dengan kemampuan berkembangnya daerah pedesaan yang dicerminkan oleh tingkat pertumbuhan PDRB per tahun (% / tahun)
5. Aspek-aspek pedesaan
·         Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
·         Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
·         Stabilitas dan sehat dan dinamis, dengan demikian peningkatan taraf hidup kecerdasan dan kesejahteraan seluruh penduduk di daerah pedesaan di harapkan dapat tercapai
6. Implikasi Pengembangan Desa Wisata Terhadap Tata Ruang Pedesaan
            Pariwisata sebagai suatu sistem, terdiri atas komponen-komponen daya tarik (attraction) aksesibilitas   dan  ameneties. Dalam  wisata pedesaan daya tarik utamanya adalah. Dalam wisata pedesaan daya tarik ini menjadi elemen primer yang mendorong kunjungan wisatawan maka daya tarik tersebut yang di pertahankan.ini berarti elemen-elemen daya tarik tersebut perlu untuk di lestarikan , di tumbuh kembangkan dan di pertahankan keunikannya. Dimensi-dimensi daya tarik tata ruang tersebut dapat berupa:
·         Lansekap  pedesaan yang menarik menuju atau si sekitar Desa yang perlu di kembangkan ,di pertahankan dengan peningkatan pemeliharaan
·         Lokasi atau tempat-tempat kegiatan pasar tradisional, rumah tradisional ,tempat-tempat upacara ritual, persawahan atau kolam-kolam ian, pantai nelayan, tempat ini adalah bagian dari daya tarik, tidak untuk di ganti menjadi pasar swalayan, hotel moderen atau kawasan wisata ( resort) tetap untuk dipelihara dan di kembangkan sebagai daya tarik
·         Aksesibilitas merupakan komponen yang sangat menentukan dan perlu diperhatikan. Aksesibilitas mencakup ketersediaan sarana maupun perencanaan prasarananya. Peningkatan aksesibilitas  ke suatu (calon) Desa Wisata, tidak berarti membangun jalan super highway. Akses yang di maksud adalah daya hubung eksternal agar Desa tersebut dapat di capai dengan mudah/nyaman. Pembatasan justru perlu dilakukan untuk mencegah perkembangan yang melampauhi daya dukung (fisik dan sosial) akses internal di perlukan misalnya untuk menuju ke daya tarik utamanya yang dapat berbentuk hutan wisata ini merupakan bagian yang dapat di buat menarik dari segi lansekap ,perparkiran maupun sebagai lokasi sumber informasi tentang daya tarik yang bersangkutan
Tata Ruang suatu Desa Wisata perlu secara khusus mengakomodasi jalur pergerakan wisatawan, secara konseptual  menunjukan pintu masuk (entrence) dan jalur-jalur penghubung antara suatu komponen dengan komponen pariwisata lainnya, salah satu bentuknya dapat berupa jalur perjalan kaki.
Amenities bersifat multi dimensional, keamanan, keselamatan, kenyamanan sebagai tujuan wisata tidak terbatas pada  sarana fisik. Amenities ini seringkali diinterpretasikan sebagai fasilitas fisik, tetapi yang lebih penting  adalah makna dan fungsionalitas dari sarana-sarana fisik tersebut.
Sumber Tim Penyusun, Buletin Tata Ruang, Jakarta, BKTRN. 2000

Konsep Pengembangan Wisata Agro
Bahwa model adalah sebuah skala kecil dari sebuah kenyataan yang   sesungguhnya di lapangan. Sementara itu, Soekartawi, dkk (1986) menyebutkan bahwa model adalah suatu abstraksi dari sebuah realitas, yang mampu   menemukan berbagai variabel yang penting dan tepat dari realitas itu. Dengan demikian, dalam pembuatan sebuah model pengembangan Wisata Agro, maka diharapkan dapat  dikristalkan bentuk proses pengembangan Wisata Agro, dengan bercermin dari berbagai bentuk pengembangan Wisata Agro yang ada  di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolopao yang secara realitas sudah berhasil, khususnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Realitas  itu telah berkembang   tanpa konflik, dan dapat menjamin keberlanjutan obyek tersebut.
Sumber



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Lokasi Penelitian
            Dalam penelitian ini yang difokuskan pada studi pengembangan Desa Wisata Agro Kanreapia di kecamtan Tobolopao Kabupaten Gowa guna untuk bahan masukan kepada pihak pemerintah Kabupaten Gowa untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga lpkasi penelitian ini terletak di Kabupaten Gowa Kecamatan Tombolopao khususnya Desa Kanreapia. Adapun penetapan lokasi penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a.       Berdasarkan dari data BPS 2008 Kabupaten Gowa dalam angka dan Kecamatan Tombolopao dalam angka maka dapat dilihat sumber mata pencaharian masyarakat Desa Kanreapia bergerak di bidang pertanian dan perkebunan (sayur-sayuran dan buah-buahan)

b.      Visi dan Misi Bupati Kabupaten Gowa yaitu
Visi
·         Secara filosofis, visi tersebut di atas  mengandung makna bahwa Kabupaten Gowa dengan segala potensi dan keunggulannya bercita-cita  menempatkan diri sebagai daerah yang handal  dalam peningkatan kualitas hidup masyarakatnya. Kondisi tersebut akan didukung oleh upaya mewujudkan masyarakat yang bermoral, beretika dan berbudaya dalam suasana bermasyarakat, membangun prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dalam mengelola sumberdaya yang dimiliki, menerapkan nilai-nilai modern dalam meningkatkan harkat dan martabat masyarakat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup.
Misi
·         Meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dengan moral dan akhlak yang tinggi serta keterampilan yang memadai
·         Meningkatkan interkoneksitas wilayah dan keterkaitan sektor ekonomi.
·         Meningkatkan kelembagaan dan peran masyarakat.
·         Meningkatkan penerapan hukum dan penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik.
·         Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam yang mengacu pada kelestarian lingkungan.



b .Populasi dan Sampel
1.      Populasi Penelitian
            Populasi adalah seluruh unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin di teliti populasi dalam penelitian ini adalah sebagian masyarakat yang ada di Kecamatan Tomboloapo sebagai penerima dampak langsung dengan dijadikannya   sebagai  Desa Wisata Agro
2.      Sampel Penelitian
            Sampel adalah kumpulan sebagian dari objek/ individu yang akan di teliti atau yang dapat mewakili populasi. Berdasarkan ruang lingkup penelitian , maka sampel penelitian adalah sebagian masyarakat yang tinggal  di Desa Kanreapia yang merupakan sampel yang meliputi pihak pemerintah dan masyarakat
c. Pengumpulan Data
            Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian tersebut yaitu:
·         Observasi lapangan yaitu pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung sehingga dapat di peroleh gambaran Desa Kanreapia saat ini, selain itu untuk mendapatkan data-data sekunder sebagai data penunjang dapat di lakukan kunjungan-kunjungan ke instansi terbaik untuk memperoleh data berupa:
1. Data Fisik
- Pola penggunaan lahan
- jenis tanah
- klimatologi seperti curah hujan, iklim ,dan cuaca
- hidrologi
- ketinggian lahan
- tekstur lahan
- tingkat  keasaman tanah
2. Data non fisik
- penduduk
- jumlah tenaga kerja yang bergerak di bidang agro
- jenis dan jumlah produksi komunitas agro
·         Quesioner yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menyebar angket kepada responden untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tersedia metode ini di lakukan untuk mendapatkan data-data terkait tentang Desa Kanreapia.
·         Dokumentasi yaitu: untuk kelengkapan data maka dapat di lakukan pengumpulan informasi dari dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan objek yang menjadi studi. Untuk keperluan ini kita harus melakukan studi dokumentasi pendekatan historis yang berhubungan dengan gejala sosial ekonomi, budaya dan kependudukan lebih banyak berhubungan dengan sumber-sumber dokumentasi.



d.  Jenis dan Sumber Data
   Dalam penyusunan laporan penelitian ini digunakan dua metode pendekatan yaitu:
·         Kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata atau lisan dari sumber data yang diamati. pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara utuh.
Jenis pendekatan ini mempunyai arah dan fungsi menemukan Teori baik secara subyektif  maupun secara formalistik, yang kesemuanya berasal dari data. Penelitian deskriptif  dilakukan untuk menetapkan sifat suatu situasi pada waktu penyelidikan itu dilakukan, karena tujuan penelitian ini adalah untuk melukiskan variabel atau kondisi dalam suatu situasi. Situasi yang dimaksud adalah dunia  pendidikan pasca orde baru, terutama pada fenomena komersialisasi yang dipraktekkan dalam pendidikan.
·         Kuantitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data perhitungan berupa angka matematis dari sumber data yang di peroleh dari hasil observasi dan perhitungan secara utuh.
Sedangkan menurut sumbernya data di bagi atas 2 kelompok yaitu:
Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data tersebut diperoleh. Sementara sumber data yang dipakai oleh penulis dalam penelitian ini meliputi sumber data primer (pokok) dan sekunder.
Ø  Data primer ialah data yang diterima langsung dari tangan pertama. Adapun sumber data primer berasal dari data-data yang langsung diperoleh dari pemerintah Kabupaten Gowa, khususnya Dinas Pariwisata dan hasil observasi penulis.
Ø  Data sekunder adalah informasi yang diperoleh dari tangan kedua. Sumber data sekunder berasal dari majalah, surat kabar, jurnal pemikiran serta internet yang berhubungan dengan arahan pengembangan pariwisata dalam rangka peningkatan ekonomi dan juga sebagai pembanding dari referensi sumber pokok. Salah satu data sekunder yang menjadi referensi penulis adalah buku yang di keluarkan oleh badan pusat statistik (BPS)  yang berjudul kabupaten Gowa dalam angka dan Kecamatan Tombolopao dalam angka

e. Teknik Analisis Data
A) Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah instrument yang digunakan untuk melakukan analisis strategis. Menurut Robert Simbolon (1999), analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis atas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Dalam lingkungan internal dan eksternal ini pada dasarnya terdapat empat unsur yang selalu dimiliki dan dihadapi, yaitu secara internal memiliki sejumlah Kekuatan (strengths) atau sumberdaya, keterampilan atau keunggulan lain yang relative terhadap pesaing yang berasal dari dalam dan kelemahan –kelemahan (weaknesses) atau keterbatasan/kekurangan dalam sumberdaya, keterampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu sistem, dan secara eksternal akan berhadapan dengan berbagai Peluang (opportunities) atau situasi / kecenderungan utama yang menguntungkan berasal dari luar, dan ancaman – ancaman (threats) situasi / kecenderungan utama yang tidak menguntungkan berasal dari luar.
Faktor – faktor strategis internal dan eksternal diberi bobot dan nila (rating) berdasarkan pertimbangan professional (Professional Juggment). Pertimbangan professional adalah pertimbangan berdasarkan kelebihan, kompeten dengan sesuatu yang dipertimbangkannya (R.Simbolon, 1999). Dalam melakukan pertimbangan profesional pada analisis faktor strategis internal dan eksternal memiliki pembatas. Pembobotan pada lingkungan internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh faktor strategis terhadap posisi strategisnya, sedangkan pada lingkungan eksternal didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22 - 24).
Jumlah bobot pada masing – masing lingkungan internal dan eksternal harus berjumlah = 1 (satu) :
Skor total internal → total bobot kekuatan + total bobot kelemahan = 1
Skor total eksternal → total bobot peluang + total bobot ancaman    = 1
Sedangkan nilai bobot menurut Freddy Rangkuti (2001 : 22 - 24) dan Diklat Spama (2000 : 13 - 14) berdasarkan ketentuan  sebagai berikut :
“ skala 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting)”
Besarnya rata – rata nilai bobot tergantung pada jumlah faktor strategisnya (5 – 10 faktor strategis) yang dipakai. Nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap kondisi dirinya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22 - 24) dengan ketentuan sebagai berikut ;
Skala mulai dari 4 (sangat kuat), 3 (kuat), 2 (kurang kuat) sampai dengan 1 (tidak kuat / lemah)
Variable yang bersifat positif (variable kekuatan dan peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata – rata pesaing utama / kondisi wilayah pesisih didaerah lain. Sedangkan variable yang bersifat negative kebalikannya, jika kelemahan dan ancaman besar sekali (disbanding dengan rata – rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1, sedangkan jika ancaman keci  di bawah rata – rata pesaingnya nilainya adalah 4.
Matrik SWOT adalah matrik yang mengintraksikan faktor strategis internal dan eksternal. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman (eksternal) yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan (internal) yang dimiliki. Hasil dari interaksi faktor strategis internal dengan eksternal menghasilkan alternative–alternative strategi. Matrik SWOT menggambarkan berbagai alternative strategi yang dilakukan didasarkan hasil analisis SWOT. Strategi SO adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan / mngoptimalkan kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan sebagai peluang yang ada. Sedang strategi WO adalah strategi yang digunakan seoptimal mungkin untuk meminimalisir kelemahan. Strategi ST adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan / mengoptimalkan kekuatan untuk mengurang berbagai ancaman. Strategi WT adalah strategi yang digunakan untuk mengurangi kelemahan dalam rangka meminimalisir / menghindari ancaman.
Tabel I.1
Model Matrik Analisis SWOT
IFAS
EFAS
Kekuatan (S)
Kelemahan (W)
Peluang  (O)
Strategi SO
(strategi yang menggunakan kekuatan dan memanfaatkan kekuatan)
Strategi WO
(strategi yang meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang)
Ancaman (T)
Strategi ST
(strategi yang menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman)
Strategi WT
(strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman)

Alternative strategi merupakan hasil matrik analisis SWOT yang menghasilkan berupa strategi SO, WO, ST, dan WT. alternative strategi yang dihasilkan minimal 4 (empat) strategi sebagai hasil dari analisis matrik SWOT.
·         Strategi SO, strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
·         Strategi ST, strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman.
·         Strategi WO, diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
·         Strategi WT, didasarkan pada kegiatan usaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
b) Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif  adalah suatu teknik analisis yang di gunakan dengan memadukan antara studi literatur, data survei serta standar yang berhubungan dengan penelitian. Jenis data yang biasanya sering di gunakan dengan metode analisis ini adalah jenis data kuantitatif
c.       analisis varian
Sesuai rumusan masalah penelitian, maka dalam pembahasan digunakan analisis :
a.       Rumusan masalah pertama mengembangkan potensi pariwisata digunakan analisis varian. Metode analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar potensi pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Sinjai melalui pendekatan geografis dan keruangan. Adapun Variabel yang dapat digunakan pada setiap kawasan wisata di Kabupaten Sinjai yaitu:
No
Variabel
Indikator
1.
Karakteristik fisik wilayah
Topografi
Curah hujan
Geografis
2
objek Wisata
Keindahan
Kealamian
Kenyamanan
Keunikan
Nilai sejarah
3
Aksesibilitas
Jarak
Kondisi Jalan
Sarana transportasi

Selanjutnya dari setiap komponen potensi pengembangan obyek wisata tersebut dilakukan penilain sesuai dengan indeks bobot kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut:
No. Urut
Tingkat Kualitatif
Bobot kuatitatif
1
Baik
8 – 10
2.
Sedang
6 – 7
3.
Buruk
3 – 5
Adapun metode analisis varian yang akan digunakan dalam melakukan penilaian pada setiap indikator penilaian potensi wisata menggunakan persamaan rumus sebagai berikut:
                        Sstot  =  ∑ X2tot  - ( ∑ Xtot )2 / N
Ssa   = ( ∑Xa )2 / Na – ( ∑ Xtot )2 / N
Ssd  = Sstot  - Ssa 
Msa = Ssa / dfa 
Msd = Ssd / dfd
F = msa / msd
F : df = dfa / dfd  .
(Sumber : Sumaatmadja Nursid 1988: 175)
b.      Analisis pembobotan
2)Analisis Pembobotan
Analisis Pembobotan adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat kealamian, keunikan, keindahan, dan aksesbilitas yang menjadi indikator pendukung dalam pengembangan kawasan wisata Bahari Kabupaten Kolaka Utara berdasarkan data yang diperoleh dari pihak pemerintah, pendapat responden yang terdiri dari para wisatawan dan masyarakat yang berada disetiap lokasi obyek wisata dan hasil pengamatan langsung penulis.

Adapun indikator tersebut adalah :
a. Tingkat Kealamian 
(i) nilai >80% (sangat asli) dengan nilai 9 (sembilan)
 (ii) nilai 60-79% (lebih dari asli) dengan nilai 8 (delapan)
(iii) nilai 40-59% (asli) dengan nilai 8 (delapan).
(iv) nilai 20-39% (kurang asli) dengan nilai 7 (tujuh)
(v) < 20% (tidak asli) dengan nilai 4-6 (empat-enam).
b. Tingkat Keunikan
(i) sangat unik, nilai 9 (sembilan)
(ii) lebih dari unik, nilai 8 (delapan)
(iii) unik, nilai 8 (delapan)
(iv)  kurang unik, nilai 7 (tujuh)
(v) tidak unik, nilai 4-6 (empat-enam).
c. Tingkat Keindahan
(i) nilai >80% (sangat indah) dengan nilai 9 (sembilan)
(ii) nilai 59-79% (indah) dengan nilai 8 (delapan)
(iii) nilai 39-59% (kurang indah) dengan nilai 7 (tujuh)
(iv) < 38% (tidak indah) nilai 4-6 (empat-enam).
d. Tingkat Aksesbilitas
Nilai yang diberikan untuk masing-masing tingkatan dapat dikategorikan kedalam 3 (tiga) bagian :
(i) Kondisi jalan dengan penilaian; aspal (nilai 9), pengerasan/papin blok (nilai 8), kerikil (nilai 7) dan tanah (nilai 6-5).
(ii) Ketersediaan alat angkut, dengan penilaian; semua jenis alat angkut (nilai 9), jenis angkutan tertentu (nilai 7-8), tidak tersedia alat angkut/berjalan kaki (nilai 4-6).
(iii) jarak, dengan penilaian; sangat dekat (nilai 9), dekat (nilai 8), agak dekat (nilai 7), jauh (nilai 6), sangat jauh (nilai 4-5).

f. . Tujuan dan Kegunaan Penelitian
            Dari uraian rumusan masalah di atas maka dapat di ketahui tujuan dari penelitian tersebut yaitu:
a.       Untuk mengidentifikasi strategi pengembangan pembangunan Desa Kanreapia menuju Desa Wisata Agro di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa
b.      Untuk  mengidentifikasi peningkatan perekonomian masyarakat Desa Kanreapia dengan adanya Wisata Agro
       Adapun kegunaan penelitian tersebut di lakukan yaitu:
a.       Untuk mengidentifikasi   pengembangan Desa Wisata Agro Kanreapia di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa
b.      Dapat menjadi  acuan bagi pemerintah daerah kabupaten Gowa dalam melaksanakan program pembangunan di bidang pariwisata.
c.       Dapat memberi masukan bagi pemerintah daerah kabupaten Gowa, khususnya  dinas pariwisata dalam penyusunan kegiatan pariwisata agro
d.       Dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah kabupaten Gowa dan para  peneliti di bidang pariwisata khususnya dalam penelitian Wisata Agro
h. Jadwal Penelitian
      Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih dua (2) bulan atau sekitar 8 minggu lamanya, yang dimulai dari minggu pertama bulan maret dengan kegiatan pengumpulan data, minggu kedua hingga minggu ketiga bulan maret yaitu kompilasi data, minggu keempat bulan maret hingga minggu pertama bulan april yaitu analisis data, pembuatan laporan di mulai dari minggu kedua bulan april hingga minggu ke empat bulan april. Jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :









Tabel Penelitian
No.
Kegiatan
Bulan
Keterangan
Maret
April
Mei
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
1.
Pengajuan Judul











2.
Konsultasi Pembimbing











3.
Seminar Proposal











4.
Survey (Pengumpulan Data)











5.
Penyusunan Tugas Akhir











6.
Pembimbingan











7.
Seminar Hasil











8.
Pembimbingan / Perbaikan Hasil Seminar Hasil











9.
Ujian Konferen











10.
Pembimbingan / Perbaikan Hasil Ujian Konferen











11
Seminar Akhir











12.
Pengumpulan Tugas Akhir












g.      Kerangka isi
Halaman Judul
Halaman Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB               I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Ruang Lingkup Penelitian
D.    Defenisi Istilah
E.     Sistematika Pembahasan
BAB                II   TINJAUAN PUSTAKA
1.      Pengertian Umum
2.      Ciri Desa Wisata Agro
3.      Syarat-syarat Wisata Agro
4.      Tipologi Desa Wisata
5.      Aspek-Aspek Pedesaan
BAB                III    METODOLOGI PENELITIAN
            a.. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
b. Populasi dan Sampel
c Pengumpulan Data
d Jenis Dan Sumber Data
e. Teknik Analisis Data
f.  Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A.    Analisis karakteristik non fisik
                                                                             1.      Kepeendudukan
                                                                             2.      Ekonomi
                                                                             3.      Analisis karakteristik fisik dasar
B.     Analisis Karakteristik Fisik Dasar
1.      Geografis
2.      Topografi
3.      Hidrologi
4.      Analisis Pola Penggunaan Lahan
5.      Analisis LQ (Location Quotient) Kuosion Lokasi
6.      Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treat)
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
A.    Kesimpulan
B.     Saran-Saran
Lampiran













Wisata agro

Kerangka Pikir
Rumusan Masalah
-          Bagaiiiman strategi pengembangan Desa Kanreapia menuju Desa Wisata agro
-          Bagaimana meningkatkan perekonomian masyarakat Desa kanreapia dengan adanya Wisata agro
Tujuan
-          Untuk mengidentifikasi strategi pengembangan Desa kanreapia menuju Desa Wisata Agro di Kecamatan Tobolopao Kabupaten Gowa
-          Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Kanreapia dengan adanya Wisata Agro
Dianalisis
-          Potensi wilayah penelitian
-          Karakteristik wilayah
-          Junlah tenaga kerja yan bergerak di bidang pertanian
Teknik Analisis Data
-          Analisis SWOT
-          Analisis LQ
-          Analisis desakriptip
Kesimpulan
-          Landasan teori
-          Visi dan misi
-          Landasan teori
Latar Belakang
  1. Potensi yang dimiliki Desa kanreapia yang berupa potensi Agro yang masih belum di miliki oleh daerah lain serta sebagian besarnya masyarakatnya bergerak di bidang pertanian
  2. Pemandangan alam Desa Kanreapia  yang indah
  3.  sebagian besar Masyarakat Desa Kanreapia  bergerak disektor pertanian


 

























Daftar Pustaka
Drs.H. Oka, Mba, Perencanaan dan Pengembangan Pariwisa. , Jakarta PRADYA PARAMITA.2008
Drs.H. Oka, Mba. Pariwisata Budaya, Jakarta, PRADYA PARAMITA, 2006
Nyoman sPendit, Ilmu Pariwisata, Jakarta, PRADYA PARAMITA, 2006
Tim Penyusun, Buletin Tata Ruang, Jakarta, BKTRN. 2000
Johara T jayadinata, Pemabngunan Desa Dalam Perencanaan. Bandung ITB. 2006
Http://ejournal.unud.ac.id/abstrak(13) soca-windia dkk-Agrowisat(2).pdf
Prof.Dr.H Adisasmita Rahardjo, Pembangunan Pedesaan Dan Perkotaan, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2006
Raldi H. Koestoer. Perspektif Lingkungan Desa Kota. Jakarta, Universitas Indonesia, 1997
Prof.Dr.H Adisasmita Rahardjo. Pembagunan Pedesaan Komprehensip. Yogyakarta, Graha Ilmu, 2006
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1  Gambaran umum Kecamatan Tombolopao
1.2  Letak gografis dan administrasi
Kecamatan Tombolopao merupakan wilayah administrasi dari kabupaten Gowa,  dengan luas wilayah keseluruhan adalah 251,82 Km2 dan jarak dari Ibu kota Kabupaten (Sungguminasa) yaitu 96 Km. Jumlah  penduduk  kecamatan  Tombolopao  sebesar  26.938  jiwa  yang terdiri dari laki-laki sebesar 13.417 jiwa dan perempuan sebesar 13.521 jiwa  dengan mayoritas mata pencarian penduduknya umumnya berprofesi sebagai petani utamanya  petani  sayuran  dan  perkebunan,  sedangkan  sektor  non  pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Kecematan tombolopao memiliki batas wilayah yaitu:
·         Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Bone
·         Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Sinjai
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Tinggimoncong
·         Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Tinggimoncong
Kecamatan Tombolopao merupakan daerah pegunungan dengan curah hujan rata-rata dalam pertahun antara 135 hari sampai 160 hari dan ketinggian dari permukaan laut berkisar rata-rata 500 meter.  Dengan jumlah desa/kelurahan
sebanyak 7 (tujuh) desa/kelurahan dan ibentuk berdasarkan PERDA No. 7 Tahun 2005.
1.3  Aspek fisik dasar
1.      Topografi
Kecamatan Tombolopao merupakan salah satu kecamatan yang terletak di dataran tinggi di kabupaten Gowa atau berada di daerah pegunungan. Kecamatan Tmbolopao terletak pada di ketinggian antara 1.500 - 1.650 Meter di atas permukaan laut. Ditinjau dari segi kemiringan lereng desa Kanreapia sebagian besar berada pada kemiringan lereng 8 – 40 %, atau sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan.

2.      Klimatologi
Kecamatan Tombolopao merupakan daerah basah dengan intensitas curah hujan yang tinggi yaitu antara 2.000 – 3000 mm/tahun. Berbeda dengan Daerah lainya di Kabupaten Gowa yang memulai hari hujan rata-rata pada bulan oktober, Tombolopao rata-rata memulai hari hujan pada awal bulan mei setiap tahunnya. Kondisi ini membuat wilayah ini mempunyai suhu rata-rata sekitar 17 – 22 cc.
3.      Hidrologi
Sebagai daerah yang memiliki intensitas hujan yang tinggi, Tombolopao juga memiliki kondisi hidrologi yang baik sebagai daerah pertanian karena di lalui banyak sungai yang berpotensi sebagai sumber irigasi bagi pertanian penuduk. Secara umum, wilayah kecamatan Tombolopao merupakan darah basah atau lembab yang cocok untuk pengembangan sektor pertanian.
4.      Geologi
Kecamatan Tombolopao kab. Gowa merupakan wilayah dataran tinggi dengan banyak macam jenis tanah dan jenis batuan penyusunnya. dinataranya dapat dilihay pada tabel berikut ini :
Tabel 1. jenis tanah & jenis batuan yang terdapat di kecamatan Tombolopao

Geologi
Jenis tanah
Jenis batuan
Andosol
Latosol
Regosol coklat kekelabuan
Basal
Lava
Breksi
Tufa
 Konglomerat
Pusat erupsi
Erupsi parasit
Breksi
 Lahar
Sumber : diolah dari data GIS

5.      Eksisting pola penggunaan lahan
ggunaan lahan di kecamatan tombolopao sebagian besar adalah kawasan hutan yang memiliki kriteria sebagai kawasan lindung, selain itu pula Penpenggunaan lahan sebagai kawasan budidaya lebih diddominasi oleh lahan pertanian/sawah dan perkebunan yang memang merupakan mata pencarian terbesa penduduk setempat, serta permukiman dan lading. untuk lebuh jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Eksisting penggunaan lahan di kecamatan Tombolopao
6.       
No
Jenis Penggunaan Lahan
%
1.
2.
3.
4.
5.
Permukiman
Hutan
Sawah/kebun
Semak
Padang
10
50
30
8
2
7.        Sumber : Peta Rupa Bumi
1.4  Gmbaran umum lokasi penelitian
Desa kanreapia yang memiliki luas 25,83 km2 atau sekitar 10,26% kecamatan tombolopao Desa kanreapia terletak pada ketinggian yang berkisar antara 1.340-1600 m dari permukaan laut dengan topografi bergelombang. Desa kanreapia terdiri dari 7 Dusun/Lingkungan dan masing-masing terdiri dari 14 RW dan 33 RT. Jumlah penduduk Desa kanreapia sebangyak4248 jiwa.
Adapun batas Wilayah administratif Desa Kanreapia yaitu:
·         Sebelah utara berbatasan dengan Desa balasuka dan Desa Tonasa
·         Sebelah Timur brbatasan dengan Desa Balaromang
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tonasa dan kelurahan tinggimoncong
·         Sebelah Selatan berbatsan dengan Kelurahan Bulutanah



1.5  Klimatologi
Curah hujan di Desa kanreapia 2.300mm/tahun dan memiliki type iklim B yang terdiri dari 9 bulan basah 2 bulan kering dan 1 bulan lembab. Kelembaban udara 85% dan terjadi dua kali musim penghujan dalam setahun. Adapun suhu udara di Desa kanreapia berkisar antara 18-23oC dengan fluktuasi 5oC.
1.6  Pola penggunaan lahan
Penggunaan lahan yang terdapat di Desa kanreapia merupakan lahan persawahan, lahan sawah tadah hujan, lahan perusahaan,badan jalan, perumahan, kantor, kebun, pasar, terminal, hutan rakyat, tegalah, sungai, semapadan, cekdam, pekuburan muslim, serta lapangan olah raga. Agar lebih jelasnya dapat di lihat pada table di bawah ini:


Tabel pola penggujnaan lahan
No
Penggunaan Lahan
Luas (Ha)
Persentase (%)
1.
Lahan Persawahan
153,0 Ha
8,6 %
2.
Lahan Persawahan Tadah hujan
34.0 Ha
1,9 %
3.
Lahan Perusahaan
120.0 Ha
6,8 %
4
Badab Jalan
13,6 Ha
0,8 %
5.
Perumahan, Kantor, Kebun
1.304,2 Ha
73,5 %
6.
Pasar dan Terminal
1,5 Ha
0,1 %
7.
Hutan Rakyat dan Tegalan
135,0 Ha
7,6 %
8.
Sungai, Sempadan dan Cekdam
1,7 Ha
0,1%
9.
Pekuburan muslim
3,5 Ha
0,2  %
10.
Lapangan olah Raga
2.5 Ha
0,1 %

Jumlah
1.775,0 Ha
100 %
Sumber: Kantor Desa
1.7  Jarak antar wilayah
Sebagai Desa yang sebagian besar wiilayahnya merupakan daerah perbukitan jarak tempuh merupakan hal yang sangat penting untuk pertimbangan terlebih lagi masih banyak terdapat titik jalan yang kondisinya masih kurang layak atau rusak untuk dilalui kendaraan bermotor. Pada umumnya jarak Desa Kanreapia dengan ibu kota Kecamatan Tombolopao (Tamaona)  yaitu berjarak 12 km sedangkan Desa kanreapia dengan ibu kota Kabupaten gowa (Sungguminahasa) 108 km atau waktu tempuh sekitar 2,5 jam dan untukibu kota kecamatan tombolopao dengan ibu kota kabupaten gowa berkisar 96 km atau waktu tempuh sekitar 2 jam.
1.7


STUDI PENGEMBANGAN DESA KANREAPIA MENUJU DESA WISATA AGRO DALAM PENINGKATAN PEREKONOMIAN DI KECAMATAN TOMBOLOPAO KABUPATEN GOWA

DISUSUN
OLEH : HASMAWATI
NIM   : 60800106026

 





JURUSAN PERENCANAAN  WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISALAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2 0 10













  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar