BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan aktivitas di perkotaan yang pesat, tuntutan penyediaan akan prasarana pendukung juga semakin tinggi dan kompleks. Hal tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari permintaan akan pelayanan yang tinggi. Namun demikian, seringkali terjadi pertumbuhan permintaan yang tidak seimbang dengan kemampuan penyediaan akan prasarana yang dibutuhkan sehingga seringkali terjadi penggunaan prasarana ‘melebihi’ kapasitas. Kelebihan permintaan sebagai akibat adanya perkembangan aktivitas tersebut menyebabkan pemerintah sebagai pihak yang mengadakan prasarana pendukung, menanggung dampak biaya bagi pengadaan atau peningkatan kapasitas prasarana tersebut. Sehubungan dengan hal itu, maka pembiayaan akan dampak yang diakibatkan oleh suatu kegiatan dapat dibebankan kepada pihak yang menjadi penyebab langsung dampak tersebut. Hal ini sesuai dengan Coase Theorem yang menyatakan bahwa suatu negosiasi dapat saja dilakukan oleh pihak pemerintah dalam upaya menanganai masalah eksternalitas yang disebabkan langsung oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Permasalahan umum yang sering dihadapi dalam transportasi perkotaan adalah masalah kemacetan dan pengendalian parkir yang belum diatur, serta penyediaan fasilitas parkir yang belum memadai, baik dinegara maju terlebih lagi di negara berkembang. Perkembangan suatu sistem transportasi serta fasilitasnya, dimana dengan adanya fasilitas jalan dan sarana angkutan yang memadai akan sangat menunjang dalam melaksanakan segala aktifitasnya.
Sebagai gambaran dari hal tersebut dapat dijelaskan dengan sebuah contoh sederhana berikut. Suatu ruas jalan di bagian wilayah kota memiliki kapasitas 4500 smp/jam. Ketika jalan tersebut baru saja didirikan/diperbaharui volume lalu lintas yang melewati jalan tersebut pada jam puncak mencapai 3000 smp/jam. Derajat pelayanan jalan tersebut berada pada tingkat yang tinggi (rasio V/C = 0,67). Dengan adanya pembangunan perumahan yang hampir seluruhnya memiliki akses langsung ke jalan tersebut pada satu rentang waktu mengakibatkan tambahan pergerakan/bangkitan menjadi 3900 smp/jam. Di sini terjadi penurunan derajat pelayanan jalan dengan rasio V/C = 0,87. Pada tingkat pelayanan ini mulai dirasakan adanya hambatan dalam perjalanan. Pada rentang waktu berikutnya, terjadi perkembangan guna lahan perumahan yang cukup pesat dan menambah bangkitan perjalanan dari guna lahan tersebut sehingga volume lalu lintas pada waktu puncak bertambah menjadi 4550 smp/jam dan rasio V/C = 1,01. Dalam keadaan ini kapasitas pelayanan jalan telah terlampaui sebagai akibat adanya tambahan volume lalu lintas yang dibangkitkan guna lahan tersebut. Kondisi yang terakhir ini menunjukan kemacetan lalu lintas, dalam hal ini pihak terakhirlah (pengembang perumahan) yang dapat dikenai biaya dampak kemacetan lalu lintas.
Menurut Jinca (2001 : 3), transportasi merupakan salah satu sistem yang menjadi daya dukung terhadap proses pembangunan suatu kota dan juga merupakan suatu indikator kinerja sistem perkotaan.
A. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sistem manajemen transportasi yang ada di jalan Andi Pangeran Petarani ?
2. Bagaimanakah alternatif pemecahan masalah manajemen transportasi dijalan Andi Pangeran Petarani?
C. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
a. Menemukenali pemecahan masalah ketidak stabilan sistem manajemen transportasi di jalan Andi Pangeran Petarani
b. Menemukenali alternatif pemecahan masalah manajemen transsportasi di jalan Andi pangeran Petarani
2. Sasaran
a. Untuk mengidentifikasi sistem manajemen transportasi di jalan Andi Pangeran Petarani.
b. Untuk menemukan alternatif pemecahan masalah ketidakstabilan sistem manajemen transportasi di jalan Andi Pangeran Petarani.
D. Teknik analisis data
Model analisis matematis untuk mengetahui kinerja ruas jalan :
1. Kapasitas jalan
Menurut MKJI (1997: 5-18) kapasitas jalan dapat dihitung dengan persamaan :
C = Co x Fcw x Fcsp x Fcsf x Fccs
Dimana :
C = kapasitas jalan (smp/jam)
Co = kapasitas dasar (smp/jam)
Fcw = faktor penyesusaian lebar jalan
Fcsp = faktor penyesuaian pemisah arah
Fcsf = faktor penyeseuaian hambatan samping dan bahu jalan
Fccs = faktor penyesuaian ukuran
2. Volume lalulintas
V = 
Dimana :
V = volume lalulintas yang melewati suatu titik (smp/jam)
n = jumlah kendaraan yang melewati suatu jalan (smp/jam)
T = waktu pengamatan
3. Derajat Kejenuhan
Menurut MKJI (1997:5 – 19) nilai derajat kejenuhan dapat dihitung dengan rumus :
DS = Q / C
DS = Derajat kejenuhan (smp/jam)
Q = Arus lalulintas (smp/jam)
C = Kapasitas jalan (smp/jam)
B. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penyusunan laporan manajemen transportasi di jalan A.P Petarani Kota Makassar, secara garis besar terbagi 5 (lima) Bab bahasan, yaitu secara berturut-turut sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Pada bab pendahuluan berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, teknik analisa data
Bab II : Tinjauan Pustaka
Pada bab tinjauan pustaka terdiri dari, peraturan-peraturan maupun perundang-undangan yang berkaitan yang berkaitan dengan penataan lalu-lintas jalan raya dan standar-standar perhitungan kapasitas jalan raya.
Bab III : Tinjauan Lokasi Penelitian
yang berisi data-data yang memberikan informasi tentang gambaran umum lokasi aerah penelitian letak dan batas adminuistrasi lokasi penelitian demografi atau kependudukan keadaan lalu linntas lokasi penelitian volume lalu lintas lenbar dan panjang jalan fasillitas pendukung jalan
Bab IV : Pembahasan
bab pembahasan mencakup tata guna lalu lintas, proyeksi penduduk dan tingkat pelayanan jalan raya
Bab V : Penutup
Bagian penutup memuat kesimpulan kritik dan saran.







0 komentar:
Posting Komentar