Sample text

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Popular Posts

About Me

Foto saya
LAHIR 20 AGUSTUS 1988 MENYELESAIKAN PROGRAM PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA DI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAKASSAR

Followers

Featured Posts

RSS

Pages

LAPORAN KERJA KULIAH LAPANGAN JAWA BALI

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Dinamika perkembangan dan perencanaan suatu wilayah kota sangatlah menuntut adanya suatu pemahaman dan  pengaplikasian ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa guna sebagai bahan perbandingan antara lautan teori yang mereka pelajari dengan implementasi dilapangan dan itu juga dapat membantu mahasiswa dalam pengaplikasian di dunia kerja (Profesional) nantinya. Di era globalisasi dan pasar bebas yang saat ini tengah menjangkiti dunia kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) merupakan syarat utama dalam persaingan perekonomian dengan Negara lain. Adanya sumber daya manusia yang kompeten, berkualitas, terampil serta memahami dunia kerja dengan bidang ( spesialisasi) masing-masing akan mampu bersaing diera yang seperti ini, maka sebagai mahasiswa generasi muda yang siap terjun kedunia profesional harus memahami persoalan tersebut.
Oleh karena itu dengan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) jurusan perencanaan wilayah dan kota sebagai Mata Kuliah wajib dalam jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, KKL pertama Angkatan 2006 merupakan Titik awal Mahasiswa Jurusan Perencanaan wilayah dan kota dalam penerapan ilmu  dan teori yang selama ini diterima dibangku perkuliahan  serta serta pengaplikasiannya dalam dunia kerja nantinya.
Kuliah kerja lapangan ini juga merupakan wadah mahasiswa dalam penyampaian aspirasi yang muncul dalam benak mereka ketika implementasi perencanaan tata ruang suatu wilayah dan kota tidak sejalan dengan dengan teori yang mereka terima di bangku perkuliahan. Oleh karena itu dengan adanya kuliah kerja lapangan (KKL) ini  mahasiswa diharapkan menerapkan teori yang dipelajari dibangku perkuliahan dan mampu mengaplikasikannya nanti di dunia profesional (dunia kerja).
I.2 Tujuan Kegiatan KKL
      Adapun tujuan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) jurusan perencanaan wilayah dan kota adalah sebagai berikut :
1.      Mendapatkan suatu ilmu yang aplikatif untuk penerapan mahasiswa dalam dunia perencanaan wilayah dan kota saat ini dan di masa mendatang.
2.      Membantu mahasiswa dalam memahami konsep yang telah diperoleh dalam lingkungan akademik sesuai dengan penonjolan masing-masing ( perencanaan Agropolitan, Perencanaan Tata ruang Pesisir dan Pulau Kecil dan Perencanaan Perumahan/Pemukiman).
3.      Memberi gambaran tentang aplikasi teori Perencanaan Wilayah dan Kota dalam dunia kerja.
4.      Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan mahasiswa dalam dunia Perencanaan Wilayah dan kota sebagai calon perencana yang profesional dan kompetitif.
I.3 Manfaat Kegiatan KKL
      Adapun manfaat diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota adalah sebagai berikut :
1.      Peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) memiliki wacana tentang kota-kota lain di Indonesia saat ini.
2.      Peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Memiliki wacana Tentang dunia kerja jurusan perencanaan wilayah dan kota saat ini.
3.      Peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mampu membandingkan rencana Tata Ruang kota yang ada di Jawa-Bali (Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Jogjakarta dan Bali) dengan Rencana Tata Ruang di Kota Makassar.
4.      Peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) memahami cara pengaplikasian teori Perencanaan yang diperoleh di lingkungan akademik dalam dunia profesional.
I.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan KKL
      I.4.1 Waktu Pelaksanaan
     Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Angkatan 2006 dengan jumlah mahasiswa yaitu 47 orang dan 3 dosen pembimbing yang dilaksanakan selama 10 hari (mulai hari selasa, 29 desember 2009 – 7 januari 2010).
      I.4.2 Tempat Pelaksanaan
     Adapun tempat pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2006 yaitu berlokasi di enam (5) kota di Pulau Jawa dan Kota Bali. Adapun matriks kegiatan perjalanan KKL  angkatan 2006 ini adalah sebagai berikut :



HARI/TANGGAL
KOTA KUNJUNGAN
KEGIATAN
Selasa, 29 des 2009
Surabaya
·         Kunjungan ke Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
·         Kunjungan ke Jembatan Suramadu
Rabu, 30 des 2009
Bali
·         Kunjungan ke Dinas Pariwisata Kota Bali
·         Kunjungan ke Museum Sangri
Kamis, 31 des 2009
Bali
·         Kunjungan Ke Pecatu Indah Resort
·         Kunjungan Ke Kawasan Wisata Tanjung Benoa
Jumat, 1 jan 2010
Bali
·         Kunjungan ke Kawasan Hutan Lindung dan Satwa Monyet Sangeh
·         Kunjungan ke Kawasan Wisata Tanah Lot
Sabtu, 2 jan 2010
Malang
·         Kunjungan ke  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
·         Kunjungan ke Kawasan Wisata Jatim Park
Ahad, 3 jan 2010
Yogyakarta
·         Observasi lapangan ke Alun-alun Keraton Jogjakarta
·         Kunjungan ke kawasan wisata belanja Malioboro
Senin, 4 jan 2010
Yogyakarta
·         Kunjungan ke Dinas Tata Ruang Kota Yogyakarta
Selasa, 5 jan 2010
Bandung
·         Kunjungan ke Kawasan Kota Baru Pharayangan
·         Kunjungan ke Institut Teknologi Bandung (ITB)
·         Kunjungan ke Kawasan wisata Belanja Cibaduyuk
Rabu, 6 jan 2010
Jakarta
·         Kunjungan ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·         Kunjungan ke PT. Jakarta Ekspres Trans
Kamis, 7 jan 2010
Jakarta
·         Kunjungan ke Kawasan Perumahan Pantai Indah Kapuk

I.5 Sistematika Penulisan
     Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan Laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) angkatan 2006 Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN                     Bab ini berisi latar belakang, tujuan kegiatan KKL, manfaat kegiatan KKL, waktu dan tempat pelaksanaan KKL dan sistematika penulisan.
      BAB II GAMBARAN UMUM             Bab ini berisikan tentang gambaran kota-kota wilayah KKL secara umum.
        BAB III APRESIASI DAN                   Bab ini berisikan pembahasan tentang Bagaimana Apresiasi dan interpretasi mahasiswa terhadap kondisi infrastruktur kota masing-masing wilayah KKL.
        BAB IV PENUTUP                               Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran  tentang hasil kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini.

BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI
II.1 Profil Kota Malang
     Kota Malang adalah sebuah kota di provinsi Jawa Timur Indonesia. Kota ini berada pada dataran tinggi cukup sejuk terletak pada 90 km sebelah selatan kota Surabaya dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar ke-2 di utara Jawa Timur dan dikenal dengan julukan kota Pelajar.
II.1.1 Sejarah Kota Malang
      Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial hindia-belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas sampai sekarang, misalnya Ijen Boulevard dan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga Belanda dan bangsa Eropa Lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.
      Pada tahun 1879 di Kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakat semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan Tata guna tanah, daerah terbangun tumbuh tanpa kendali, perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
      Sejalan dengan perkembangan tersebut diatas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan semakin meningkat diluar kemampuan pemerintah, sementara ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang disekitar daerah perdagangan, disepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama daerah itu menjadi perkampungan dan degradasi kualitas hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.
        II.1.2  Pembagian Admistratif  dan Demografi Kota Malang
                        Pembagian admistratif kota Malang terdiri atas lima (5) kecamatan yaitu :
·         Kecamatan Kedung Kandang
·         Kecamatan Sukun
·         Kecamatan Klojen
·         Kecamatan Blimbing
·         Kecamatan Lowokwaru
                 Sedangkan untuk jumlah penduduk kota Malang 768.000 jiwa (BPS, 2008) dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun. Sebagian besar adalah suku jawa dan sejumlah suku minoritas seperti arab, madura dan tionghoa.
                 Agama mayoritas adalah islam diikuti dengan protestan, khatolik, hindu, budha dan konghucu. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri sejak jaman kolonial Belanda antara lain mesjid jami (mesjid Agung), gereja hati kudus yesus, gereja Ijen. Serta Klenteng di kota lama Malang yang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan yang sudah terkenal diseluruh nusantara.
II.1.3 Pendidikan Kota Malang
                 Malang juga dikenal sebagai kota pendidikan, karena memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama. Perguruan tinggi negeri termasuk Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (IKIP Malang), Universitas Islam Negeri Malang dll. Ada juga beberap perguruan tinggi swasta yang terkemuka diantaranya Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka dll.
II.1.4 Infrastuktur Kota Malang
II.2 Profil Kota Bandung
     Kota Bandung yang terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kota Bandung cukup strategis, dilihat dari segi komunikasi, perekonomian maupun keamanan.  Hal tersebut disebabkan oleh :
        1.  Kota Bandung terletak pada pertemuan poros jalan raya :
a.  Barat - Timur yang memudahkan hubungan dengan Ibukota Negara
b. Utara - Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah perkebunan (Subang dan Pangalengan).
2. Letak yang tidak terisolasi  dan dengan komunikasi yang baik akan memudahkan aparat keamanan untuk bergerak ke setiap penjuru.         
II.2.1















BAB III
APRESIASI DAN INTERPRETASI
III.1 Profil Wilayah Kota Surabaya
Posisi geografi sebagai permukiman pantai menjadikan Surabaya berpotensi sebagai tempat persinggahan dan permukiman bagi kaum pendatang (imigran). Proses imigrasi inilah yang menjadikan Kota Surabaya sebagai kota multi etnis yang kaya akan budaya. 
Beragam migrasi, tidak saja dari berbagai suku bangsa di Nusantara, seperti, Madura, Sunda, Batak, Borneo, Bali, Sulawesi dan Papua, tetapi juga dari etnis-etnis di luar Indonesia, seperti etnis Melayu, China, Arab, India, dan Eropa, datang, singgah dan menetap, hidup bersama serta membaur dengan penduduk asli, membentuk pluralisme budaya yang kemudian menjadi ciri khas Kota Surabaya.
     

Daerah pemukiman padat, tanah-tanah dibutuhkan untuk perumahan, komersil dan untuk komersil dan untuk rekreasi, sehingga tidak ada lagi daerah untuk  Sanitary Landfill. Kota Surabaya dengan jumlah penduduk hampir 3 juta jiwa, merupakan kota terbesar kedua Indonesia dan sangat besar peranannya dalam menerima dan mendistribusikan barang-barang industri, peralatan teknik, hasil-hasil pertanian, hasil hutan, sembako, dan sebagainya, terutama bagi wilayah Indonesia Timur.



Penggunaan Lahan Kota Surabaya
Sumber: Badan Pertanahan Nasionel Kota Surabaya, 2001

Mengingat peranan Surabaya yang sedemikian penting, gangguan genangan banjir yang melanda Surabaya pada setiap musim hujan sangatlah berdampak luas terhadap kelancaran roda perekonomian, kesehatan dan kenyamanan hidup masyarakat Kota Surabaya dan sekitarnya.
Sebagai kota perdagangan, Surabaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan bagi hinterlandnya yang ada di Jawa Timur, namun juga memfasilitasi wilayah-wilayah di Jawa Tengah, Kalimantan, dan kawasan Indonesia Timur.
Orientasi Wilayah


Peta Kota Surabaya


Kota Surabaya terletak diantara 07012’ - 07036’ - 112054’ Bujur Timur, merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Batas-batas wilayah Kota Surabaya adalah sebagai berikut.
·         Batas Utara        : Selat Madura  
·         Batas Selatan     : Kabupaten Sidoarjo
·         Batas Timur       : Selat Madura 
·         Batas Barat        : Kabupaten Gresik
Topografi Kota Surabaya meliputi:
·         Kota pantai 
·         Dataran rendah antara 3-6 m di atas permukaan laut 
·         Daerah berbukit, di Surabaya bagian selatan 20-30 m di atas permukaan laut 
Temperatur Kota Surabaya cukup panas, yaitu rata-rata antara 22,60 – 34,10, dengan tekanan udara rata-rata antara 1005,2 – 1013,9 milibar dan kelembaban antara 42% - 97%. Kecepatan angin rata-rata perjam mencapai 12 – 23 km, curah hujan rata-rata antara 120 – 190 mm.
Jenis Tanah yang terdapat di Wilayah Kota Surabaya terdiri atas Jenis Tanah Alluvial dan Grumosol, pada jenis tanah Alluvial terdiri atas 3 karakteristik yaitu Alluvial Hidromorf, Alluvial Kelabu Tua dan Alluvial Kelabu.
III.2 Interpretasi Sarana Dan Prasarana di Kota Surabaya

III.2.1Komponen Air Bersih

Sebagai sumber bahan baku, PDAM memanfaatkan air yang berasal dari mata air dan dari air permukaan, dengan kapasitas total 7.930 liter/detik, dimana saat ini kapasitas produksi sebesar 6.065 liter/detik dengan rincian sebagai berikut:
1.Mata air yang berasal dari mata air Umbulan dengan kapasitas 110 liter/detik dan mata air Pandaan dengan kapasitas 220 liter/detik.
2.Air permukaan yang terdiri dari beberapa unit produksi, yaitu:
a. Unit produksi IPA Ngagel, terdiri dari 3 unit IPA dengan sistem yang berbeda, dengan kapasitas terpasang 4.300 liter/detik dan kapasitas operasi 3.800 liter/detik.
b.Unit produksi IPA Karang Pilang, terdiri dari 2 unit yang berbeda, dengan kapasitas terpasang 3.200 liter/detik dan saat ini kapasitas produksi sebesar 2.100 liter/detik
c. Unit produksi IPA Kayoon, mempunyai kapasitas sebesar 100 liter/detik, karena pertimbangan kualitas air baku saat ini beroperasi pada kapasitas 50 liter/detik 
Sistem distribusi air minum di Kota  Surabaya menggunakan sistem looping karena sistem ini lebih menjamin ketersediaan air dalam jaringan, mengingat topografi Kota Surabaya yang relatif datar digunakan pompa untuk pendistribusiannya. Area pelayanan ini terbagi dalam lima zona distribusi utama yang didasarkan pada perkembangan, penduduk dan kebutuhan air dan terbagi lagi dalam 58 sub zona yang berfungsi untuk pengendalian kebocoran. Instalasi penjernihan terbagi dalam lima zona yaitu:
·         Instalasi Ngagel I
·         Instalasi Ngagel II
·         Instalasi Ngagel III
·         Instalasi Kayoon
·         Instalasi Karang Pilang






Jumlah Pelanggan Dan Distribusi Air Minum
Menurut Jenis Pelanggan
No.
Jenis Pelanggan
Jumlah Pelanggan
Distribusi Air Minum (m³)
1.
Rumah tangga
278.382
94.835.000
2.
Niaga
20.545
11.620.000
3.
Industri
833
5.350.000
4.
Sosial
6.356
17.359.000
5.
Instansi Pemerintah
968
6.884.000
6.
Penjualan Umun/tangki
-
244.000
7.
Pelabuhan
4
748.000
8.
Bocor
-
92.730.000
TOTAL
307.088
229.513.000
             Sumber: PDAM Kota Surabaya 2008

Jumlah air yang hilang selama distribusi air minum adalah 84.686.000 m3, atau 28,88% dari total air yang disalurkan PDAM. Jumlah karyawan PDAM Surabaya saat ini adalah sebanyak 1.690 orang, dan telah mampu melayani kebutuhan air bersih bagi kurang lebih 68% penduduk. Untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa distriusi, PDAM Surabaya memberikan pelayanan air bersih melalui tangki air dan hidran umum.Dengan asumsi kebocoran yang diperbolehkan untuk Kota Metropolitan sebesar 15%, dan kebutuhan ideal adalah 185 liter/orang/hari, maka kebutuhan air bersih untuk Kota Surabaya disajikan dalam tabel berikut ini.
Kebutuhan Sarana Prasarana Air Bersih Kota Surabaya

Jumlah
Penduduk
Kapasitas Produksi
Eksisting
Kebutuhan ideal
Kota
Metropolitan
Kebutuhan
Total
(liter/hari)
Selisis
(liter/air)
Liter/detik
I/hari
2.599.790
6.065
524.016.000
185 I/orang/hari
490.962.260
-43.053.740
          Sumber: analisis

Sesuai dengan standar kota Metropolitan, yaitu kebutuhan air bersih 185 liter/detik/org,Kota Medan dengan jumlah penduduk 2.599.796 jiwa, membutuhkan 480.962.260 lt/hr. Jumlah ini didapatkan dari jumlah penduduk x 185 liter/orang/hari. PDAM Kota Surabaya dapat memproduksi sebanyak 524.016.000 liter/hari. Sehingga kebutuhanair bersih masyarakat Kota Surabaya telah dapat dipenuhi oleh PDAM Kota Surabaya.
          III.1.2 Komponen Persampahan

Sampah Kota Surabaya dikelola oleh Dinas Kebersihan Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya. Masalah persampahan kota metropolitan harus mendapatkan perhatian serius, karena semakin besar kota, semakin banyak pula sampah yang terproduksi. Jumlah timbulan sampah rata-rata perhari Kota Surabaya saat ini adalah 8.700 m3, sedangkan volume sampah yang bisa dikelola oleh Dinas Kebersihan Kota Surabaya hanya sekitar 6.700 m3 atau hanya sekitar 77% dari timbulan sampah yang ada. Sisa sampah yang tidak bisa dikelola mencapai 2.000 m3 per hari. Sampah yang tidak dapat terkelola tersebut, semakin lama semakin banyak dan menimbulkan masalah baru lagi. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila di Kota Surabaya banyak dijumpai illegal dumping  yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi lingkungan sekitarnya. Selain terjadinya illegal dumping, sampah yang tidak dapat terkelola dibuang ke sungai dan ini menimbulkan masalah sendiri. Salah satu penyebab banjir di Kota Surabaya, karena banyaknya sampah yang dibuang ke sungai.
Timbulan sampah di Kota Surabaya berasal dari berbagai macam sumber. Volumesampah terbesar berasal dari permukiman yang mencapai jumlah 79,19% dari total timbulan sampah. Sebagian besar sampah yang berasal dari pemukiman adalahsampah rumah tangga yang merupakan sampah organik. Berikut ini adalah tabel prosentase sumber timbulan sampah Kota Surabaya.
Persentase Sumber Timbulan Sampah Kota Surabaya

No.
Sumber Sampah
Prosentase Sampah (%)
1.
Pemukiman
79.19
2.
Pasar
8.6
3.
Pertokoan, Hotel, Rumah makan
2.64
4.
Fasilitas umum
0.61
5.
Sapuan jalan
0.62
6.
Saluran
0.17
7.
Perkantoran
1.37
8.
Industri
6.86
                        Sumber: Dinas Kebersihan Kota Surabaya 2008

Pasukan Kuning adalah sebutan untuk tukang sapu jalan yang bertugas menyapu sampah pada jalan-jalan utama, taman kota  dan tempat-tempat umum lain di Kota Surabaya. Merek adalah ujung tombak dalam pengelolaan sampah di Kota Surabaya. Menurut data dari Dinas Kebersihan Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya, jumlah penyapu jalan di Kota Surabaya tahun 2002 adalah sebanyak 468 orang. Pengumpulan sampah di permukiman dilakukan dengan pick-up. Sedangkan pada permukiman yang tidak dapat dilalui pick-up, dilakukan dengan gerobak sampah.
Sampah yang telah dikumpulkan dengan pick-up atau gerobak sampah ditampung sementara di Tempat Pembuangan Sementara atau dibawa ke transfer depo. Jumlah Tempat Pembuangan sementara (TPS) sebanyak 225 lokasi, sedangkan transfer depo yang ada di Kota Surabaya sebanyak 76 lokasi. Dari transfer depo, sampah diangkut dengan truck sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).Jumlah armada truck sampah yang mengangkut sampah dari transfer depo ke Tempat Pembuangan Akhir sebanyak 96 unit.
Pada awal tahun 2000, terjadi masalah besar pada sektor persampahan di Kota Surabaya. Pada saat itu, Kota Surabaya memiliki 2 TPA, yaitu TPA Sukolilo yang luasnya 40,5 Ha dan TPA Lakarsantri yang luasnya 8,5 Ha. Namun karena protes dari warga sekitar TPA karena pencemaran dan ketidaknyamanan dengan adanya TPAtersebut, akhirnya pada pertengahan tahun 2001 kedua TPA tersebut ditutup dan saat ini tidak lagi beroperasi. Saat ini, sampah dari Kota Surabaya yang dapat dikelola, dibuang ke TPA Benowo yang berada di Kecamatan Benowo.
Data TPA Di Kota Surabaya
No.
Lokasi TPA
Sistem
Pengolahan
Luas
(Ha)
Jarak dari sumber sampah
Jarak dari pemukiman terdekat
Ket.
1.
Keputih Kec. Sukolilo
Sorabaya Timur
Controlled Landfill
40.5
15 Km
500 m
Tidak beroperasi
2.
Lakarsatri Kec. Lakarsatri
Controlled Landfill
8.5
20 Km
3.000 m
Tidak beroperasi
3.
Benowo
Kec. Benowo Surabaya Barat
Sasnitary Landfill dan daur ulang
26.7
35 Km
250 m
Tidak beroperasi
        Sumber: Surabaya dalam angaka 2008

Kebutuhan Komponen Sampah Kota Surabaya
Jumlah Penduduk
Timbulan Sampah Kota Metro
Perkiraan timbulan sampah total
Sampah yang
tersangkut saat ini
Selisih
2.599.796
3,5 liter/orang/hari
9.099.28 m³
6.700 m³
2.399.28 m³
          Sumber: Analisis


Sesuai dengan standar kota Metropolitan, yaitu tingkat timbulan sampah sebanyak 3,5 liter/orang/hari, Kota Medan dengan jumlah penduduk 2.599.796 jiwa, menghasilkan 9.099,28 m3. Jumlah ini didapatkan dari jumlah penduduk x 0.0035  m3/orang/hari. Sampah yang terangkut saat ini sebanyak 6.700 m3. Sehingga banyaknya sampah yang belum terlayani adalah 2.399,28 m3
.
 


          III.1.3 Komponen Sanitasi/Limbah Cair

1.      Limbah Cair Domestik

a.       Sistem Setempat

Sebagian besar menggunakan sistem pembuangan setempat (on site system), dan sebagian dialirkan ke saluran depan rumah, sungai atau lahan kosong di sekitar rumah, sehingga dapat mengakibatkan pencemaran. Sebagian besar (60,87%) penduduk di wilayah ini sudah menggunakan jamban dengan tangki septik, dan sebagian lainnya (39,13%) belum menggunakan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan.
Penduduk Pengguna Sarana Sanitasi
Uraian
Penduduk
Parameter limbah (ton/tahun)
(jiwa)
(%)
BOD%
COD
SS
TDS
Dengan
TS-RES
2.070.689
87.25
40.793
6.651
3.023
5.517
Dengan
TS-RES
302.593
12.75
2.088
35
35
80.6
             Sumber      : Dinas Kesehatan Jatim
             Ket             : TS=tangki septik, RES=resapan

b.      Sistem Terpusat

Dinas Kebersihan Kota Surabaya telah membangun Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT) dan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Pemasangan 3 unit IPAL di tepi Sungai Kalimas untuk mengurangi pencamaran akibat limbah domestik yang berasal dari warga sekitar Stren Kalimas. Kapasitas desain IPLT yang menggunakan sistem oxidation ditch ini adalah 2 unit x 100 m3/hari. Angkutan limbah tinja yang berasal dari tangki septik warga ini sepenuhnya dikelola pihak swasta. Selain menangani proses pengolahan limbah sebelum dibuang ke badan sungai, Dinas Kebersihan juga memiliki 1 unit truk tinja pelengkap. Hingga akhir Maret 2000 terdapat 17 perusahaan pengguna jasa IPLT dengan volume tinja rata-rata sebesar 3.114,08 m3 / bulan atau 103,8m3/hari. Pemeriksaan kualitas influen dan efluen limbah IPLT tidak dilaksanakan Dinas Kebersihan secara rutin sehingga tidak dapat dianalisa kinerja instalasi.
Biaya pengolahan lumpur tinja ditetapkan dalam Perda no.2 tahun 1990 jis no.16 tahun 1993 sebesar Rp 3000/m3. biaya tersebut dibayar para penggunajasa IPLT ke Dinas Pendapatan Daerah Kota Surabaya. Pengolahan limbah cair domestik terpusat telah direncanakan dalam Surabaya Sewerage and Sanitation Development Programme  (Surabaya SSDP) pada September 2000, yang merupakan bagian dari pelaksanaan SUDP (Surabaya Urban Development Project).
Melalui suatu kajian terhadap 163 kelurahan di kota Surabaya, diidentifikasikan daerah yang menggunakan sanitasi terpusat atau setempat/modul yang memenuhi syarat untuk percontohan sanitasi terpusat yakni Wonokromo, Kapasan dan Bongkaran - Peneleh. Dari modul Wonokromo limbah disalurkan ke IPAL Wonokromo serta IPAL Kapasan dan dari modul lainnya dialirkan ke IPAL Bongkaran – Peneleh. Produk sludge tinja yang dihasilkan 2 IPAL akan dikuras dan ditransfer ke IPLT oleh perusahaan swasta atau PDAM. Pengolahan limbah Kota Surabaya bagian Barat akan dilayani IPLT Benowo yang berkapasitas 250 m3/hari serta IPLT Keputih (akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 400m3/hari) untuk Surabaya bagian Timur.


2.      Limbah Cair Non Domestik

Untuk meminimasi pencemara limbah cair industri, di Surabaya bagian Timur telah dibangun Unit Pengolahan Limbah (UPL) terpusat di kawasan industrri SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut). Mengingat keterbatasan kemampuan UPL dan jaringan riolnya maka beberapa industri harus melakukan pengolahan awal (pre treatment) limbahnya sebelum diinjeksikan pada jaringan inlet instalasi. Kapasitas terpasang UPL SIER adalah 7.500 m3/hari yang terdiri dari bak pra sedimentasi untuk mengendapkan partikel secara  oxidation ditch untuk menurunkan beban biologis. Untuk limbah non industri, sumber yang berperan antara lain kegiatan agro industri dan industrri pengolahan.
Potensi Beban Pencemaran Limbah Cair

Sumber
Volume Libah (m³/tahun)
Parameter Limbah (ton/tahun)
BOD5
COD
SS
TDS
N
Agro Industri
52
797
0
2.532
-
248
Industri Pengolahan
16.063
14.725
11.676
5.165
108.932
4
          Sumber: NSALHD Kota Surabaya 2008



          III.1.4 Komponen Drainase
         
Kondisi prasarana pematusan yang terdapat di Kota Surabaya selain adanya Kali Mas yang membentang dipusat kota menuju ke laut arah utara dan Kali Wonokromo arah timur juga terdapat beberapa saluran pembuangan dan beberapa rumah pompa yang melengkapi jaringan drainase.

Wilayah Drainase Kota Surabaya

No.
Wilayah Drainase
Sub Sistem
Pola Jaringan
1.
Surabaya Selatan
§   Wonorejo
§   Kebonagung
§   Perbatasan
Secara gravitasi dapat dialirkan langsung kelaut, tiap sub sistem memerlukan boezem dan pintu pasang surut sepanjang badian timur
2.
Surabaya Timur
§   Medokan
§   Bratang
§   Kalibokor-keputih
§   Kalidami
§   Kali Kepiting
§   Kenjeran
§   Kenjeran Utara-Kedung Cowek
§   Pegirian-tambak Wedi
Sebenarnya seluruh sub sistem ini dapat dialirkanke laut secara gravitasi. Namun kondisi saat hujan deras dan pengaruhpasang surut laut perlui dilengkapi pintu pengendalian banjir dan boezem.
3.
Surabaya Barat
§   Kali Mas
§   Greges
§   Gunungsari
§   Kedulus
§   Karang Pilang
Sub sistem Gregas paling parah keadaannya karena melalui daerah pemukiman yang padat dan menjadikan pemasukan Gregas sebagai pemasukan air kotor. Saluran Gunungsari awalnya adalah irigasi guna mengairi lahan seluas 700 Ha. Pada perkembangan kota saat ini wilayah barat merupakan bukit-bukit, maka banjir akibat aliran permukaan dari daerah-daerah tinggi tersebut cukup besar sedangkan kapasitas saluran cukup kecil. Hal ini menyebabkan lubernya air banjir kewilayah tengah kota dan daerah rendah di wilayah Banyurip-Benowo
             Sumber: Surabaya Drainage Master Plan, 2008









Data Saluran Pembuangan

Bagian
Saluran Pembuangan
Timur
Kali Dami
Kali Kepiting
Kali Kenjeran
Kali Bokor
Utara
Kali Jeblokan
Kali Pegirikan
Selatan
Kali Wonojero
Kali Kebonagung
Kali Perbatasan
Barat
Kali Greges
Kali Balong
Kali Kandangan
Kali Benyu Urip

Rumah Pompa Dan Daerah Pelayanan

Rumah Pompa
Daerah Pelayanan
Gunung Sari
Wil. Hayam Wuruk dan sekitarnya
Bratang
Wil. Bratang dan sekitarnya
Darmokali
Wil. Kutei dan sekitarnya
Flores
Wil. Bratang dan sekitarnya
Dinoyo
Wil. Gelora pancasila, Dr Sutomo dan sekitarnya
Keputran
Wil. Keputran dan sekitarnya
Jl. Kenari
Wil. Tunjungan dan sekitarnya
Darmahusada
Wil. Darmahusada dan sekitarnya
Kali Dami
Membantu kelancaran Kali Dami menuju bagian hilir

Prasarana pematusan yang dimiliki Surabaya antara lain adalah boezem yang terdapat di 3 lokasi yakni:
1.   Boezem Kalidami, terletak di muara Kalidami. Boezem merupakan terminal aliran air dari 3 penjuru saluran yakni Utara : saluran Bhaskarasari, Mulyosari, Dharmahusada; Selatan: Kejawan Keputih, ITS, Gebang dan Barat dari Kalidami, Kertajaya, Manyar Sabrangan.
2.   Boezem Bratang, terletak di muara Kali Sumo. Boezem ini dibantu dengan stasiun pompa Bratang, merupakan penampungan sementara air dari Kali Sumo yang alirannya menuju Kali Wonokromo.
3.   Boezem Morokrembangan, termasuk dalam wilayah drainase Surabaya Barat. Merupakan muara dari saluran-saluran pematusan yang ada di bagian barat.
Daerah genangan terdapat 148 daerah. Banjir yang terjadi melebihi waktu 2 hari terjadi di beberapa lokasi dalam daerah drainase sistem Kebonagung, Wonorejo, Kalibokor, Kalidami, dan kali Rungkut. Banjir melebihi waktu 6 jam juga terjadi pada daerah rendah Kedurus dan Medokan Semampir. Banjir terdalam adalah 120 cm terjadi padasistem Wonorejo, sedangkan pada sistem saluran Gunungsari 100cm, pada Jl. May.Jend. Sungkono 70 cm. Sungai Brantas bercabang 2 yaitu Kali Porong dan Kali Surabaya yang mengalir dari Mojokerto ke Surabaya. Di Gunungsari kali Surabaya bergabang 2 lagi yaitu kali Mas dan Kali Wonokromo. Pembagian aliran ke Kali porong dan Kali Surabaya dilakukan dengan operasi pintu di Mlirip dan Dam Lengkong.
Saluran Primer Pada Sistem Drainase Kota Surabaya

No.
Rayon / Sistem
Cathment area yang ada (Ha)
Pengatur / outlet
1.
Rayon Genteng
PA Darmokali
Ciliwung
PA Dinoyo
PA Keputeran
Gubeng Kayong Grahadi
PA Kenari Embong Malang
PA Flores
Peneleh
Kali Mas
Pelabuhan Barat
Pelabuhan Timur
Gregas

265
22
237
29
67
63
28
67
409
586
549
490

Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Kali Mas
Bosem Morokrembangan
2.
Rayong Gubeng
Pegirian
Tambakwedi
Jeblokan Hulu
Jeblokan hilir
Kali Kedinding
Lebak Indah
Kenjeran
Pantai Kenjeran
Kali Kepiting
Kalidami
Kali bokor hulu
Kali bokor hilir
Daratan Pantai Timur
Oloran Utara Kalidami
Oloran Selatan Kalidami

918
720
67
113
151
600
324
66
106
1.151
10
763
878
103
445

Tambakwedi Tide Gate
Tambakwedi Tide Gate
Sewedi Tide Gate
Sewedi Tide Gate
Sewedi Tide Gate
Kenjeran Lor Tide Gate
Cumpat Tide Gate
Cumpat Tide Gate
Kalisari Tide Gate
Kalisari Tide Gate
Keputih Tide Gate
Keputih Tide Gate
3.
Rayon Jambanagan
Kali Mir Hulu
Kali Mir Hilir
PDAM Ngagel
Kali Sumo
Medokan Semampir
Tambak Keputih
Kali Wonorejo
Kali Rungkut
Kali Kebonagung
Kali Perbatasan
Dataran Pantai Selatan

20
116
16
341
750
68
2.092
616
285
2.106
698

Jagir Regulator Gate
Jagir Regulator Gate
K Jagir/Wonokromo
Pompa ke Kali Jagir
Pompa ke Kali Jagir

Tide Gate/stop log
Tide Gate/stop log
4.
Rayon Wiyung
Kali Kedurus
Karang Pilang

6.239
406

Kali Surabaya
5.
Rayon Tandes
Gunungsari
Dataran Rendah Barat

5.292
5.659

Kali Lamong
             Sumber: Surabaya Drainage Master Plan, 2008


          III.1.5 Komponen Transportasi

Jalan-jalan di Surabaya terasa makin sulit menampung pertumbuhan jumlah dan jenis kendaraan. Jalan-jalan tidak hanya sering macet karena menanggung beban lalu lintas terlalu berat, tetapi juga karena genangan air hujan. Tidak berfungsinya secara maksimal jalan-jalan di Surabaya tentu saja mengganggu perekonomian, karena jalan adalah salah satu urat nadi perekonomian kota.
Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan,
Kondisi Jalan Beraspal Dan Kelas Jalan Di Kota
Surabaya Tahun 2008

No.
Uraian
Panjang Jalan
1.
Jenis Permukaan
Beton
Aspal
Kerikil
Tanah

7,18
2.028.77
-
-
2.
Kondisi jlam (beraspal)
Baik
Sedang
Rusak

1.909.97
305.48
120.5
3.
Kelas Jalan
Arteri Primer
Arteri Sekunder
Kolektor primer
Kolektor Sekunder
Lokal
 Khusus
Tidak dirinci

80.71
76.95
158.45
255.88
1.404.67
59.29
-

Jalan-jalan bebas hambatan (tol) telah dibangun, seperti jalur Surabaya-Gempol,Surabaya-Gresik/Lamongan, dan akan segera dibangun lagi jalan tol Surabaya-Mojokerto, tol Gempol-Malang dan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Pembangunan jalan-jalan bebas hambatan tersebut terus dikembangkan lebih jauh lagi guna memperlancar transportasi untuk kepentingan industri. Surabaya juga memfasilitasi para investor dengan penyediaan kawasan pergudangan di kawasan segitiga Tambak Langon-Kalianak-Margomulyo, Surabaya Barat. Kawasan itu mudah dijangkau karena letaknya dekat jalan tol menuju pelabuhan Tanjung Perak. Pergudangan itu berfungsi strategis bagi ekspor hasil-hasil industri di Surabaya maupun Jawa Timur. Kawasan pergudangan dilengkapi dengan fasilitas listrik, saluran air, telepon dan pelebaran jalan.
Lancarnya perdagangan di Surabaya juga didukung oleh sistem transportasi yang memadai, baik lewat darat, laut maupun udara. Pelayanan angkutan darat yang melayani transportasi umum, baik dalam Kota Surabaya maupun antar kota, Surabaya didukung oleh beberapa terminal yang representatif antara lain:
·      Terminal Bungurasih (Purabaya)
·      Terminal Tambak Osowilangun
·      Terminal Jembatan Merah
·      Terminal Joyoboyo
·      Terminal Bratang







Antrian Angkutan Umum di Terminal Joyoboyo
Masyarakat umumnya menggunakan angkutan umum bemo, sementara bis masih sulit diandalkan sebagai alat transport utama karena jumlah armadanya yang kurang memadai. Seringkali angkutan umum tidak mematuhi trayek yang berlaku, sehingga masyarakat sering dirugikan karena harus berganti kendaraan beberapa kali. Sebagaimana umumnya, angkutan publik  di Surabaya masih belum mendapatkan perawatan yang memadai, sehingga banyak angkutan yang sudah tidak layak jalan, namun karena kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait, kendaraan-kendaraan tersebut masih terus beroperasi.
III.3 Apresiasi Sarana Dan Prasarana
III.3.1Pengelolaan sarana dan prasarana 
a.      Prasarana air bersih
Kota Surabaya dalam pengelolaan dan pendistribusian air besih menggunakan sumber air permukaan. Hal ini mengindikasikan bahwa candangan dan potensi air bersih yang tersedia di  kota Surabaya sangat besar persentasenya.
Dengan menggunakan sumber air bersih dari Mata air  Umbulan dengan kapasitas 110 liter/detik dan mata air Pandaan dengan kapasitas 220 liter/detik.  Mampu melayani kebutuhan  masyarakat kota Surabaya secara menyeluruh.
Sistem looping yang diterapkan dalam pendistribusian air bersih merupakan pilihan yang tidak salah, Hal itu dapat dilihat karena kondisi topografi kota Surabaya yang relative datar.
Berdasarkan data jumlah pelanggan dan pendistribusian air bersih untuk masyrakat kota Surabaya. Maka dapat diketahui bahwa jumlah pengguna atau masyarakat yang mengkonsumsi air bersih terbesar adalah dari pelanggan rumah tangga. Sedangkan yang terkecil adalah pelabuhan. Tapi setelah ditinjau secara keseluruhan dapat di ketahui persentase kebocoran yang ada di kota Surabaya sangat tinggi. Hal itu terkemuka karena nilai persentase kebocoran air hanya beda 1 % dengan kebutuhan pelanggan rumah tangga.
Untuk mencukupi kebutuhan air  bersih yang ada di kota suarabaya masih sudah tercukupi. Hal itu dapat ditinjau dari nilai selisih kebutuhan air bersih dengan jumlah penduk yang ada di kota Surabaya. Nilai selisihnya tersebut dapat mencapai 43.053.740 liter/hari.
b.      Prasarana sampah.
Kota surabya adalah kota terbesar kedaua setelah kota Jakarta. Sehingga imej kebersihanpun tidak beda jauh dengan kota Jakarta. Hal itu dapat dilihat dari Jumlah timbulan sampah kota Surabaya rata-rata perhari saat ini adalah 8.700 m3, sedangkan volume sampah yang bisa dikelola oleh Dinas Kebersihan Kota Surabaya hanya sekitar 6.700 m3 atau hanya sekitar 77% dari timbulan sampah yang ada. Sisa sampah yang tidak bisa dikelola mencapai 2.000 m3 per hari.
Permasalahan persampahan kota Surabaya lebih banyak bersumber dari permukiman hal itu dapat dilihat dari jumlah illegal dumping yang  yang berasal dari permukiman. Karena dinas kebersihan sebagai pengambil alih pengelolaan persampahan kota surabaya. Persentase illegal dumping mencapai 23 %. Dengan tiga lokasi TPA tapi hal lain yang menjadi kendala dalam pengeloalaan persampahan kota Surabaya adalah karena tidak beroperasinya ketiga Tempat  pengolahan sampah tersebut.
Ini menjadi sebuah landasan dalam pengembangan tempat pengolahan sampah dan juga dalam memaksimalkan pengelolaan sampah yang ada di kota Surabaya. Hal itu sekurang-kurangnya dengan membangun daerah tempat pengelolaan sampah yang baru.
c.       Limbah Cair
Limbah cair yang ada di kota surabaya terdiri dari limbah cair
·         domestic
Limbah cair dosmestik yang ada di  kota Surabaya dapat di bagi lagi berdasarkan dua hal yaitu limbah cair setempat yang berasal dari masyarakat setempat. Proses pembuangan limbah cair  tidak pada tempatnya (tidak pada Jamban yang menggunakan (Septictank) yang langsung di area atau daerah setempat baik di daerah danau, sungai, daratan didekat rumah mereka dll. Sedangkan limbah cair terpusat adalah system penggelolaan limbah cair yang langsung dikelola oleh swasta dan bekerja sama dengan pemerintah daerah kota Surabaya. Hal itu dilakukan Dalam bentuk pembangunan instalasi pengelolaan lumput  pemerintah kota Surabaya dengan membangun instalasi pengelolaan air limbah (IPAL)
Melalui suatu kajian terhadap 163 kelurahan di kota Surabaya, diidentifikasikan daerah yang menggunakan sanitasi terpusat atau setempat/modul yang memenuhi syarat untuk percontohan sanitasi terpusat yakni Wonokromo, Kapasan dan Bongkaran - Peneleh. 
Instalasi pengelolaan lumpur tinja (IPLT)  yang  yang di kelola oleh pihak ketiga (swasta) bekerja sama dengan pemerintah kota Surabaya. Pengelolaan yang IPLT yang kembangkan oleh pemerintah kota Surabaya dapat menjadi sebuah referensi bagai daerah lain dalam pengelolaan limbah cair.
·         Limbah cair  non-domestik
Untuk limbah cair non domestic, limbah yang berasal dari  industry telah dapat ditanggulangi oleh dengan pembangunan unit pengolahan limbah (UPL). Tapi tidak semua indutri dapat di kelola dengan dengan unit pengolahan limbah. Karena masih banyak industry yang masinh menggunakan pretreatment (pengolahan awal) limbahnya sebelum diinjeksikan pada jaringan inlet instalasi.
Hal ini menjadi tinjauan dalam pengelolaan limbah kota Surabaya. Karena masih kurangnya  indutri yang menggunakan instalai pengolahan limbah.

d.      Drainase.
Prasarana pematusan yang dimiliki Surabaya antara lain adalah boezem yang terdapat di 3 lokasi yakni:
1.   Boezem Kalidami, terletak di muara Kalidami. Boezem merupakan terminal aliran air dari 3 penjuru saluran.
2.   Boezem Bratang, terletak di muara Kali Sumo. Boezem ini dibantu dengan stasiun pompa Bratang
3.   Boezem Morokrembangan, termasuk dalam wilayah drainase Surabaya Barat yang    Merupakan muara dari saluran-saluran pematusan yang ada di bagian barat.
Ketiga terminal ini akan menjadi bagian terpenting dalam mengendalikan dan mengalirkan banjir apabila terjadi di kota Surabaya dan ketiga boezoem tersebut saling berkaitan antara satu sama lain karena ketiga terminal tersebut  berada pada satu aliran.
Salah satu hal yang lebih xmenguntungkan bagi kota Surabaya adalah banyaknya sungai yang mengalir di area kota Surabaya yang terbagi dalam lima rayon.
Tapi  walau begitu pengelolaan drainase  yang ada di kota Surabaya masih belum maksimal. Terbukti dengan masih adanya area yang erkena banjir di 148 daerah ada sbeberapa ada beberapa daerah  yang sudah tergenang selama 2 hari.
e.       Transportasi
Di tinjau dari kebutuhan jalan. Kota Surabaya sudah sangat kesusahan dalam mengatur kebutuhan kapasitas jalan. Hal inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah kota Surabaya. Karena abila dibiarakan berlarut-larut akan mengganggu kineraja pertumbuhan ekonomi koata Surabaya.
Hal itu dasari oleh karena transportasi adalah urat nadi pertumbuhan dan perkemabangan wilayah dari  berbagai segi kehidupan yang berimplikasi langsung pada pertumbuhan ekonomi kota Surabaya.
Jalan-jalan bebas hambatan (tol) telah dibangun, seperti jalur Surabaya-Gempol,Surabaya-Gresik/Lamongan, dan akan segera dibangun lagi jalan tol Surabaya-Mojokerto, tol Gempol-Malang dan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Pembangunan jalan-jalan bebas hambatan tersebut terus dikembangkan lebih jauh lagi guna memperlancar transportasi untuk kepentingan industri. Surabaya juga memfasilitasi para investor dengan penyediaan kawasan pergudangan di kawasan segitiga Tambak Langon-Kalianak-Margomulyo, Surabaya Barat. Kawasan itu mudah dijangkau karena letaknya dekat jalan tol menuju pelabuhan Tanjung Perak. Pergudangan itu berfungsi strategis bagi ekspor hasil-hasil industri di Surabaya maupun Jawa Timur.
Walaupun penyiapan prasarana  transpotasi darat, laut, udara dan rel yang ada di kota Surabaya telah tersedia dengan lengkap. Tapi itu  tidak menjadi indikator bahwa manajemen dan pengelolaan  transportasi kota Surabaya  telah memadai.
Hal terbesar yang perlu di perhatikan dengan serius oleh pemerintah kota Surabaya dalam bidang transportasi adalah masalah keamanan dan kenyamanan penumpang. Karena masalah kenyamananlah yang akan menjadikan transportasi sebagai favorit masyarakat.
III.4 Profil Wilayah Bali
Propinsi Daerah Tingkat I Bali terdiri dari Pulau Bali dan Pulau-pulau kecil dengan luas wilayah 563.286 Ha atau 0,29 % dari luas kepulauan Indonesia. Adapun pulau-pulau kecil tersebut adalah Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Serangan dibelahan selatan menghadap samudra Hindia dan Pulau Menjangan di belahan utara Pulau Bali menghadap ke Laut Jawa. Secara administratif Propinsi Bali terdiri atas 8 Kabupaten dan 1 Kodya, 51 Kecamatan, 565 Desa, 79 Kelurahan dan 3.499 Banjar/Dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.968.933 jiwa, dengan luas masing-masing Kabupaten adalah :
  1. Kabupaten Buleleng 136.588 Ha
  2. Kabupaten Jembrana 84.180 Ha
  3. Kabupaten Tabanan 83.933 Ha
  4. Kabupaten Badung 41.852 Ha
  5. Kota Madya Denpasar 12.398 Ha
  6. Kabupaten Gianyar 36.800 Ha
  7. Kabupaten Bangli 52.081 Ha
  8. Kabupaten Klungkung 31.500 Ha
  9. Kabupaten Karangasem 83.954 Ha
Secara Geografis Propinsi Bali terletak pada posisi antara 80 , 03’, 40" - 80, 50’, 48 " LS dan 1140 , 25’, 53 " - 1150 , 42’, 40" BT. Dengan garis pantai sepanjang lebih kurang 470 Km dan topografi Pulau Bali ditengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur yang berupa sabuk hijau (green belt) berupa hutan sebagai sumber mata air dan diantara pegunungan ada gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 bagian yang tidak sama yakni Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai sedangkan Bali Selatan dengan dataran rendah dan landai. Selain itu pada bentangan sabuk hijau tersebut terdapat 4 Danau yaitu Danau Bratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan dan Danau Batur, yang dipergunakan sumber air bagi kehidupan.
Keadaan topografi Pulau Bali dengan ciri wilayah yang bergunung-gunung, terletak bagian tengah wilayah membentang dari Barat sampai Timur. Pada wilayah yang berbukit dan bergunung, kemiringan lahan umumnya miring hingga terjal (lebih dari 40 %), dataran rendah sebagian besar terdapat dibagian selatan membentang dari barat hingga ke timur, sedangkan dibagian utara relatif sempit. Ditinjau dari segi penggunaan tanah di Propinsi Bali menunjukan bahwa 5,92 % tanah untuk Pemukiman, 16,38 % merupakan Tanah Sawah, 22,42 Tanah Tegalan/Pertanian Lahan Kering, 20,71 % Perkebunan, 20,59 % areal Hutan dan 13,98 % untuk lain-lain. Hutan sebagai sumber penyiapan air dan sumber pengairan terletak ditengah-tengah pulau Bali yang merupakan sabuk hijau yang terbentang dari ujung barat sampai ujung Timur Pulau Bali.
Dengan keadaan Sumber Daya Alam yang ada di Propinsi Bali dan sumber daya manusia beserta kultur sosial dan budaya serta ekonominya daerah ini potensial sekali sebagai daerah agraris yang handal dan pariwisata, oleh karena itu Pembangunan Daerah Propinsi Bali bertumpu pada Sektor Pertanian yang didalamnya Sub Sektor Kehutanan dan Sektor Pariwisata. Secara langsung memang Sub Sektor Kehutanan tidak termasuk dalam Sub Sektor yang berperan terhadap PDRB Daerah Bali akan tetapi secara tidak langsung banyak menopang terhadap hidrologis.
Berkaitan dengan pelestarian Sumber Daya Alam, sesuai dengan kultur budaya masyarakat Bali yang menurut Ajaran Agama Hindu terkenal dengan "Tri Hita Karana" (Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan) maka upaya tersebut menunjukkan hasil yang positif disamping terbinanya lingkungan yang baik juga mendukung pembangunan Kehutanan dan Pariwisata.
PETA PROVINSI BALI


III.5 Profil wilayah Denpasar
Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha. Dari luas tersebut diatas tata guna tanahnya meliputi Tanah sawah 2.717 Ha dan, tanah kering 10.051 Ha. Tanah kering kering terdiri dari tanah pekarangan 7.831 Ha, tanah tegalan 396 Ha, tanah tambak/kolam 10Ha, tanah sementara tidak diusahakan 81Ha,tanah hutan 613 Ha. Tanah perkebunan 35 Ha dan tanah lainnya:1.162Ha. 


Luas Lahan di Kota Denpasar Dirinci per Kecamatan (hektar)
No
Kecamatan
Tanah Sawah
Tanah Kering
Jumlah
1
Denpasar Barat
185
2.122
2.407
2
Denpasar Timur
726
1.054
2.230
3
Denpasar Selatan
935
4.058
4.993
4
Denpasar Utara
771
2.368
12.778

Kota Denpasar
2.717
9.942
12.778
Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim sehingga  memiliki musim kemarau dengan angin timur (Juni-Desember) dan musim hujan dengan angin  barat(September-Maret) dan diselingi oleh musim pancaroba. Suhu rata-rata berkisar antara 25,1° C-29,0° C dengan suhu maksimum jatuh pada bulan Nopember, sedangkan suhu minimum pada bulan Juli. Jumlah Curah Hujan tahun 2006 di Kota Denpasar berkisar 1.0-466.0 mm dan rata-rata 119,4 mm. Bulan basah (Curah Hujan >100 mm/bl) selama 4 bulan dari bulan Januari s/d April. Sedangkan bulan kering (Curah Hujan <100 mm/bl selama 8 bulan jatuh pada bulan Mei sampai Desember. Curah Hujan tertinggi terjadi pada pada bulan Januari (466.0 mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1.0 mm). 
Sedangkan Ketinggian Wilayah Kota Denpasar sebagian besar berada pada ketinggian tempat antara 0-75 m dari permukaan air laut.   Denpasar Selatan   seluruhnya   terletak  pada  ketinggian   0-12 m  di atas permukaan air laut. Sedangkan Denpasar Timur,Denpasar Barat dan   Denpasar Utara   terletak pada ketinggian 0-75m diatas permukaan air laut.
f.       Drainase.
Prasarana pematusan yang dimiliki Surabaya antara lain adalah boezem yang terdapat di 3 lokasi yakni:
4.   Boezem Kalidami, terletak di muara Kalidami. Boezem merupakan terminal aliran air dari 3 penjuru saluran.
5.   Boezem Bratang, terletak di muara Kali Sumo. Boezem ini dibantu dengan stasiun pompa Bratang
6.   Boezem Morokrembangan, termasuk dalam wilayah drainase Surabaya Barat yang    Merupakan muara dari saluran-saluran pematusan yang ada di bagian barat.
Ketiga terminal ini akan menjadi bagian terpenting dalam mengendalikan dan mengalirkan banjir apabila terjadi di kota Surabaya dan ketiga boezoem tersebut saling berkaitan antara satu sama lain karena ketiga terminal tersebut  berada pada satu aliran.
Salah satu hal yang lebih xmenguntungkan bagi kota Surabaya adalah banyaknya sungai yang mengalir di area kota Surabaya yang terbagi dalam lima rayon.
Tapi  walau begitu pengelolaan drainase  yang ada di kota Surabaya masih belum maksimal. Terbukti dengan masih adanya area yang erkena banjir di 148 daerah ada sbeberapa ada beberapa daerah  yang sudah tergenang selama 2 hari.
g.      Transportasi
Di tinjau dari kebutuhan jalan. Kota Surabaya sudah sangat kesusahan dalam mengatur kebutuhan kapasitas jalan. Hal inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah kota Surabaya. Karena abila dibiarakan berlarut-larut akan mengganggu kineraja pertumbuhan ekonomi koata Surabaya.
Hal itu dasari oleh karena transportasi adalah urat nadi pertumbuhan dan perkemabangan wilayah dari  berbagai segi kehidupan yang berimplikasi langsung pada pertumbuhan ekonomi kota Surabaya.
Jalan-jalan bebas hambatan (tol) telah dibangun, seperti jalur Surabaya-Gempol,Surabaya-Gresik/Lamongan, dan akan segera dibangun lagi jalan tol Surabaya-Mojokerto, tol Gempol-Malang dan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Pembangunan jalan-jalan bebas hambatan tersebut terus dikembangkan lebih jauh lagi guna memperlancar transportasi untuk kepentingan industri. Surabaya juga memfasilitasi para investor dengan penyediaan kawasan pergudangan di kawasan segitiga Tambak Langon-Kalianak-Margomulyo, Surabaya Barat. Kawasan itu mudah dijangkau karena letaknya dekat jalan tol menuju pelabuhan Tanjung Perak. Pergudangan itu berfungsi strategis bagi ekspor hasil-hasil industri di Surabaya maupun Jawa Timur.
Walaupun penyiapan prasarana  transpotasi darat, laut, udara dan rel yang ada di kota Surabaya telah tersedia dengan lengkap. Tapi itu  tidak menjadi indikator bahwa manajemen dan pengelolaan  transportasi kota Surabaya  telah memadai.
Hal terbesar yang perlu di perhatikan dengan serius oleh pemerintah kota Surabaya dalam bidang transportasi adalah masalah keamanan dan kenyamanan penumpang. Karena masalah kenyamananlah yang akan menjadikan transportasi sebagai favorit masyarakat.
III.4 Profil Wilayah Bali
Propinsi Daerah Tingkat I Bali terdiri dari Pulau Bali dan Pulau-pulau kecil dengan luas wilayah 563.286 Ha atau 0,29 % dari luas kepulauan Indonesia. Adapun pulau-pulau kecil tersebut adalah Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Serangan dibelahan selatan menghadap samudra Hindia dan Pulau Menjangan di belahan utara Pulau Bali menghadap ke Laut Jawa. Secara administratif Propinsi Bali terdiri atas 8 Kabupaten dan 1 Kodya, 51 Kecamatan, 565 Desa, 79 Kelurahan dan 3.499 Banjar/Dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.968.933 jiwa, dengan luas masing-masing Kabupaten adalah :
  1. Kabupaten Buleleng 136.588 Ha
  2. Kabupaten Jembrana 84.180 Ha
  3. Kabupaten Tabanan 83.933 Ha
  4. Kabupaten Badung 41.852 Ha
  5. Kota Madya Denpasar 12.398 Ha
  6. Kabupaten Gianyar 36.800 Ha
  7. Kabupaten Bangli 52.081 Ha
  8. Kabupaten Klungkung 31.500 Ha
  9. Kabupaten Karangasem 83.954 Ha
Secara Geografis Propinsi Bali terletak pada posisi antara 80 , 03’, 40" - 80, 50’, 48 " LS dan 1140 , 25’, 53 " - 1150 , 42’, 40" BT. Dengan garis pantai sepanjang lebih kurang 470 Km dan topografi Pulau Bali ditengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur yang berupa sabuk hijau (green belt) berupa hutan sebagai sumber mata air dan diantara pegunungan ada gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 bagian yang tidak sama yakni Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai sedangkan Bali Selatan dengan dataran rendah dan landai. Selain itu pada bentangan sabuk hijau tersebut terdapat 4 Danau yaitu Danau Bratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan dan Danau Batur, yang dipergunakan sumber air bagi kehidupan.
Keadaan topografi Pulau Bali dengan ciri wilayah yang bergunung-gunung, terletak bagian tengah wilayah membentang dari Barat sampai Timur. Pada wilayah yang berbukit dan bergunung, kemiringan lahan umumnya miring hingga terjal (lebih dari 40 %), dataran rendah sebagian besar terdapat dibagian selatan membentang dari barat hingga ke timur, sedangkan dibagian utara relatif sempit. Ditinjau dari segi penggunaan tanah di Propinsi Bali menunjukan bahwa 5,92 % tanah untuk Pemukiman, 16,38 % merupakan Tanah Sawah, 22,42 Tanah Tegalan/Pertanian Lahan Kering, 20,71 % Perkebunan, 20,59 % areal Hutan dan 13,98 % untuk lain-lain. Hutan sebagai sumber penyiapan air dan sumber pengairan terletak ditengah-tengah pulau Bali yang merupakan sabuk hijau yang terbentang dari ujung barat sampai ujung Timur Pulau Bali.
Dengan keadaan Sumber Daya Alam yang ada di Propinsi Bali dan sumber daya manusia beserta kultur sosial dan budaya serta ekonominya daerah ini potensial sekali sebagai daerah agraris yang handal dan pariwisata, oleh karena itu Pembangunan Daerah Propinsi Bali bertumpu pada Sektor Pertanian yang didalamnya Sub Sektor Kehutanan dan Sektor Pariwisata. Secara langsung memang Sub Sektor Kehutanan tidak termasuk dalam Sub Sektor yang berperan terhadap PDRB Daerah Bali akan tetapi secara tidak langsung banyak menopang terhadap hidrologis.
Berkaitan dengan pelestarian Sumber Daya Alam, sesuai dengan kultur budaya masyarakat Bali yang menurut Ajaran Agama Hindu terkenal dengan "Tri Hita Karana" (Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan) maka upaya tersebut menunjukkan hasil yang positif disamping terbinanya lingkungan yang baik juga mendukung pembangunan Kehutanan dan Pariwisata.
PETA PROVINSI BALI


III.5 Profil wilayah Denpasar
Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha. Dari luas tersebut diatas tata guna tanahnya meliputi Tanah sawah 2.717 Ha dan, tanah kering 10.051 Ha. Tanah kering kering terdiri dari tanah pekarangan 7.831 Ha, tanah tegalan 396 Ha, tanah tambak/kolam 10Ha, tanah sementara tidak diusahakan 81Ha,tanah hutan 613 Ha. Tanah perkebunan 35 Ha dan tanah lainnya:1.162Ha. 


Luas Lahan di Kota Denpasar Dirinci per Kecamatan (hektar)
No
Kecamatan
Tanah Sawah
Tanah Kering
Jumlah
1
Denpasar Barat
185
2.122
2.407
2
Denpasar Timur
726
1.054
2.230
3
Denpasar Selatan
935
4.058
4.993
4
Denpasar Utara
771
2.368
12.778

Kota Denpasar
2.717
9.942
12.778
Kota Denpasar termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin musim sehingga  memiliki musim kemarau dengan angin timur (Juni-Desember) dan musim hujan dengan angin  barat(September-Maret) dan diselingi oleh musim pancaroba. Suhu rata-rata berkisar antara 25,1° C-29,0° C dengan suhu maksimum jatuh pada bulan Nopember, sedangkan suhu minimum pada bulan Juli. Jumlah Curah Hujan tahun 2006 di Kota Denpasar berkisar 1.0-466.0 mm dan rata-rata 119,4 mm. Bulan basah (Curah Hujan >100 mm/bl) selama 4 bulan dari bulan Januari s/d April. Sedangkan bulan kering (Curah Hujan <100 mm/bl selama 8 bulan jatuh pada bulan Mei sampai Desember. Curah Hujan tertinggi terjadi pada pada bulan Januari (466.0 mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1.0 mm). 
Sedangkan Ketinggian Wilayah Kota Denpasar sebagian besar berada pada ketinggian tempat antara 0-75 m dari permukaan air laut.   Denpasar Selatan   seluruhnya   terletak  pada  ketinggian   0-12 m  di atas permukaan air laut. Sedangkan Denpasar Timur,Denpasar Barat dan   Denpasar Utara   terletak pada ketinggian 0-75m diatas permukaan air laut.
1.      Sistem Pengelolaan Sampah.
                 



             Sampah didaerah pinggiran kota Denpasar
Sampah selalu menjadi masalah besar, utamanya bagi kota-kota besar khususnya di Indonesia. Sampah juga dapat memberi damfak yang begitu besar, karna selain merusak estetika lingkungan, sampah juga dapat menimbulkan penyakit bagi masyarakat perkotaan. Oleh karna itu perlunya sistem pengelolaan sampah yang baik demi menjaga kebersihan dan keindahan suatu kota.
Untuk sistem pengelolaan sampah,  Denpasar termasuk kota yang sudah baik penanganannya, walaupun masih perlu sedikit pembenahan. Ini dilihat dari kebersihan dari sebagian besar wilayah kota Denpasar utamanya daerah pusat kota. Namun beberapa daerah tertentu terutama yang berada dipinggiran kota masih terlihat tumpukan sampah.
Hal ini menjadi harus pekerjaan rumah bagi pemerintah kota Denpasar untuk menuntaskan masalah persampahan di seluruh pelosok dikota ini. Selain itu, diharapakan juga kesadaran dari masyarakat dalam menjaga kebersihan kota demi menuju “Gerakan Denpasar Bersih   
2.      Jembatan Penyebrangan
                                                    Jembatan Penyebrangan di Bali

Jembatan Penyebrangan adalah salah satu fasilitas penting dalam bidang     transportasi selain dari jalan. Walaupun suatu daerah sudah dilengkapi dengan adanya     jalan, namun tidak dibarengi dengan keberadaan suatu jembatan, maka aktifitas            transportasi tidak dapat berjalan dengan baik. Untuk menghindari tejadinya kemacetan yang sangat parah, maka jembatan penyebrangan di kota Denpasar  seharusnya ditata sedemikian rupa seperti yang diterapkan oleh beberapa kota besar diluar negri. Hal ini dimaksudkan apabila dilakukan upacara adat dan keagamaan dikota Denpasar, maka alur transportasi dapat diatur keberbagai arah, baik kearah vertikal maupun kearah horisontal. Sangat disadari bahwa untuk mewujudkannya diperlukan biaya yang besar. Namun apabila dilakukan untuk suatu kebaikan maka hal itu tidak ada artinya. 
a.      Apresiasi dan Interfretasi tentang Sarana Kota Denpasar
1.   Fasilitas Pendidikan
                                               Sebuah Universitas di Kota Denpasar
Pendidikan sangat penting bagi masa depan dan bekal seseorang pada masa yang akan datang. Seseorang tanpa bekali dengan suatu pendidikan, maka masa depannya tidak akan pernh jelas. Oleh karna itu, fasilitas pendidikan harus betul-betul diperhatikan karna berkaitan langsung nasib seseorang pada masa yang akan datang.
Denpasar sebagai kota wisata dan kaya akan budaya memerlukan generasi-generasi penerus yang handal dan berpotensi, maka dari itu pendidikan harus menjadi perhatian di kota ini. Hal   tersebut dimaksudkan agar pada masa yang akan datang terlahir generasi-generasi yang mampu mewarisi, menjaga dan meningkatkan kekayaan yang ditinggalkan oleh para leluhurnya. Dengan demikian, citra dan ciri khas Bali, khususnya kota Denpasar akan terjaga.
Kota Denpasar seharusnya bercermin kepada kota Yogyakarta. Walaupun sama-sama sebagai kota budaya namun satu keunggulan  yang dimiliki kota Yogyakarta yaitu juga mengutamakan bidang pendidikan, sehingga kota ini dikenal juga sebagai “Kota Pendidikan
2.Fasilitas Peribadatan

       
Pura                                                             Mesjid

              
Vihara                                                                             Gereja

Fasilitas Peribadatan sangat dibutuhkan oleh umat beragama untuk menyembah Tuhannya. Menyembah dan mengabdi kepada Tuhan adalah bekal umat manusia untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap agama mempunyai tempat-tempat suci untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan yang diyakininya.
Di Bali khususnya kota Denpasar, walaupun didominasi oleh agama Hindu bukan berarti fasilitas peribadatan yang ada disana hanya berupa Pura. Hal ini terlihat dengan masih adanya tempat-tempat suci agama lain, seperti Mesjid, Gereja, dan Pihara. Ini menandakan bahwa masyarakat Bali memeluk banyak agama. Sangat diharapkan agar antar umat beragama hidup damai dan rukun tanpa terjadinya suatu konflik yang dapat mencoreng nama baik Bali khususnya Kota Denpasar dimata dunia.
Agar tercipta rasa saling menghargai, tali silaturahmi antar pemeluk agama terus dijaga dan ditingkatkan demi menjaga keharmonisan yang ada. Selain itu juga, pemuka agama masing-masing harus selalu berdialog dan berdiskusi dalam rangka peningkatan hubungan yang lebih erat lagi.
3.Fasilitas Kesehatan

                                                           RSUD Wangaya Denpasar, bertaraf internasional
                                                           yang menangani wisatawan asing di kota Denpasar

Kesehatan sangat berharga bagi setiap orang, oleh karna itu fasilitas kesehatan mutlak harus ada bagi setiap daerah yang memiliki penduduk. Secara umum fasilitas kesehatan di kota Denpasar khususnya rumah sakit sudah baik, hal ini terbukti dengan adanya salah satu rumah sakit yang bertaraf internasional. Namun demikian masih perlu peningkatan lebih lanjut oleh pemerintah.
Sebagai kota yang selalu dikunjungi oleh dunia luar fasilitas kesehatan seharusnya tidak menjadi masalah di kota ini, mengingat kota Denpasar memiliki kekayaan yang melimpah dapat memberi keuntungan ekonomi bagi daerah. Dengan diterapkannya sistem otonomi daerah maka semua kebijakan diatur oleh pemerintah daerah.
Dengan kondisi yang seperi itu, peran pemerintah kota Denpasar sangat diharapkan untuk memperbaiki semua kekurangan dalam bidang kesehatan, utamanya menyangkut fasilitas-fasilitas rumah sakit. Kalau perlu harus ditambah lagi rumah sakit yang bertaraf internasional. Apalah jadinya jika suatu saat seseorang utamanya warga asing membutuhkan  pelayanan itu kemudian tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai maka citra Indonesia, khususnya Bali akan tercoreng dimata dunia luar.  
4.Fasilitas Perkantoran
                          
Perkantoran di Kota Denpasar
               
Kantor adalah tempat berlangsungnya berbagai macam aktifitas pemerintahan. Maka dari itu diperlukan fasilitas perkantoran untuk menunjang aktifitas tersebut. Pada umumnya semua kota di Indonesia khususnya kota yang menjadi pusat pemerintahan fasilitas perkantoran sudah tidak terlalu menjadi permasalahan karna sebagian besar fasilitas ini sudah terpenuhi. Yang hanya menjadi masalah adalah keberadaan sarana penunjang dikantor tersebut, utamanya komputer.
Untuk kota Denpasar, fasilitas perkantoran sebagian besar sudah ada dikota ini. Namun sarana penunjang aktifitas di kantor tersebut yang masih perlu dilengkapi utamanya kantot-kantor yang mengurusi langsung masalah pariwisata. Karna mengingat pariwisata adalah ikon penting provinsi Bali, khususnya Kota Denpasar.    

5. Fasilitas Hiburan dan Rekreasi
              Pemandangan di Pantai Kuta          
             
Untuk sarana hiburan dan rekreasi kota Denpasar memiliki tempat yang banyak      dikunjungi oleh para wisatawan, salah satu diantaranya adalah kawasan wisata bahari      pantai kuta.
Pantai Kuta merupakan kawasan hiburan dan rekreasi terbesar di Bali. Kawasan ini merupakan tempat favorit bagi para wistawan, utamanya dari mancanegara. Ini disebabkan karna tempat ini dapat menyajikan pemandangan yang sangat indah, baik pasir putihnya, kebersihan lautnya, maupun sunsetnya. Dari semua wisata bahari yang ada di Bali pantai kuta yang paling banyak mendapatkan kunjungan wisata.
Dengan kondisi seperti itu seharusnya pemerintah dan masyarakat kota Denpasar harus memelihara dan meningkatkan lagi pelayanan di pantai Kuta sehingga menambah     minat para wisatawan untuk berkunjung ketempat ini. Dengan demikian dapat            meningkatkan perekonomian masyarakat setempat serta menambah Pendapatan Asli    Daerah (PAD) dan pendapatan Negara secara umum.



6.Fasilitas Perdagangan dan Jasa
       
Pusat oleh-oleh khas Bali Karang Karunia                       Aston Hotel Denpasar

Dari segi sektor perdagangan dan jasa, kota Denpasar tidaklah kalah dengan daerah lain. Hal ini dapat dilihat dengan adanya tempat-tempat yang terkenal seperti Karang Karunia dan Aston Hotel.
Karang Karunia merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Bali. Di tempat ini terdapat aneka barang-barang khas Bali, baik itu berupa fashion. Souvenir, maupun berbagai macam Aksesoris. Keberadaan Karang karunia sebagai pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali sangat mendukung posisi Denpasar sebagai tempat kunjungan wisata, karna akan menambah minat para wisatawan untuk berkunjung ke kota Denpasar. Para wisatawan bisa mendapatkan oleh-oleh yang menjadi khas Bali yang akan dibawa pulang kekampung halamannya ditempat ini.
Aston Hotel merupakan salah satu Hotel terbesar di kota Denpasar. Keberadaan sarana ini menjadi penunjang bagi wisata kota Denpasar. Para wisatawan akan lebih enak bila menginap di Hotel ini. Karna letaknya yang berada dipusat kota Denpasar sehingga semua tempat-tempat wisata sangat mudah untuk dijangkau bila kita menginap di hotel ini. 

b.   Apresiasi dan Interpretasi tempat dan Instansi yang dikunjungi
a.      Dinas Pariwisata Provinsi Bali
 Suasan Diskusi di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali

Dinas Pariwisata Provinsi Bali terletak di jalan MT. Haryono kota Denpasar. Keberhasilan pariwisata Bali dalam menarik perhatian para wisatawan utamanya dari mancanegara merupakan kinerja yang baik dari dinas pariwisata. Berdasarkan penjelasan dari pihak dinas pariwisata bahwa kunjungan wisata ke Bali dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan pasca terjadinya tragedi bom Bali pada tahun 2001 dan 2003.
Dengan kondisi yang terus mengalami peningkatan seharusnya Dinas Pariwisata dan pemerintah  provinsi Bali, khususnya kota Denpasar terus meningkatkan kerja sama dalam rangka pencapaian target kunjungan wisata ke Bali. Untuk mewujudkannya, hal yang harus dilakukan adalah peningkatan pelayanan dari segi infrastruktur, peningkatan atraksi wisata serta peningkatan keamanan para wisatawan.
Selain itu juga, dukungan dari pemerintah pusat sangat diharapkan karna mengingat pariwisata adalah salah satu sektor yang mampu meningkatkan pendapatan negara, dan terbukti pariwisata Bali yang paling banyak di minati oleh para wisatawan dan paling banyak memberikan devisa bagi negara.                  
b.      Pecatu Graha Resort
                    
Kawasan Pecatu Indah  Resort            

Kawasan Pecatu Indah Resort yang terletak di Kab. Badung merupakan suatu konsep pengembangan kota baru mandiri, yang memiliki luas ± 400 M2. Kawasan ini adalah milik dari anak mantan presiden RI yaitu Tommy Soeharto. Saat ini Pecatu Indah Resort masih dalam proses tahap pembangunan infrastruktur. Namun hampir semua perumahan yang ada di kawasan ini sudah berpenghuni.
Dalam pengembangannya, kawasan Pecatu Indah Resort menggunakan teknologi yang canggih. Hal ini dimaksudkan agar nantinya kawasan ini bisa memberi kepuasan kepada orang-orang yang akan tinggal ditempat ini, terutama dari segi pelayanan infrastrukturnya. Keberadaan kawasan ini nantinya diharapkan bisa menambah daya tarik dan minat para wisatawan untuk berkunjung ke kota Denpasar, karna jarak kota Denpasar dengan kawasan ini masih sangat mudah untuk di jangka. Diharapkan juga kawasan Pecatu Indah Resort nantinya bisa bersaing dengan kota-kota baru lain yang ada di Indonesia, seperti Kota Baru Parahyangan yang ada di Bandung dan Pantai Indah Kapuk yang berada di Jakarta.
III.6 Apresiasi dan Interpretasi Untuk Kota Malang
Bentuk Kota Malang pada dasarnya dipengaruhi oleh proses perkembangan kota itu sendiri. Pada awal perkembangannya, ketika Belanda mulai menguasai Malang, bentuk kota mulai berubah menjadi grid seperti yang banyak terdapat di negara-negara Eropa. Pada masa ini perkembangan kota cenderung berpola memusat di pusat kota, yaitu sekitar alun-alun. Setelah pusat kota penuh, kemudian pada kurun waktu antara tahun 1938-1954 perkembangan kota cenderung mengikuti jalur jalan yang aksesnya tinggi sehingga bentuk kota cenderung linier mengikuti jaringan jalan ke arah utara, barat maupun selatan, terutama ke arah utara kota karena merupakan jalan masuk utama kota Malang dari Surabaya. Jadi, pola perkembangan kota Malang dari tahun 1767 sampai tahun 1960 berbentuk radial konsentris. Selanjutnya, dalam kurun tahun 1954 sampai sekarang, setelah sepanjang jalan utama kota terisi penuh, perkembangan kota
menyimpang ke wilayah kosong di seluruh kota, terutama di utara kota.
Secara umum, pola perkembangan Kota Malang dapat dikatakan menyebar dengan kecenderungan perkembangan radial konsentris dimana pada awalnya sebagian besar kegiatan terutama perdagangan dan jasa terkonsentrasi di dalam satu kawasan, yaitu pusat kota dan kemudian menyebar pada sub-sub pusat kotanya. Dari perkembangan yang cenderung mencari lahan kosong inilah, muncul pola pergerakan tata ruang menuju sub pusat pengembangan seperti ke wilayah Singosari, Kepanjen, Lawang, Tumpang, Jabung, Wajak, Wagir, dan Dau. Untuk pengembangan wilayah lainnya juga berdasarkan kebutuhan ruang yang lebih luas lagi sehingga melihat sub-sub pusat lainnya. Daerah-daerah transisi ini memiliki potensi yang sangat besar dalam perkembangannya. Selain sebagai sub pusat, juga berfungsi sebagai pusat pelayanan dan meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan yang akan dibutuhkan.
Tata guna tanah di wilayah Kabupaten Malang sangat bervariasi. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat bentuk wilayahnya didominasi areal perbukitan dan pegunungan. Ada pun komposisi penggunaan lahan meliputi sawah 14,88%; perkampungan 13,72%; tegal/kebun 33,64%; hutan 26,435%; perkebunan 4,75%; lain-lain 6,58% dari keseluruhan lahan seluas 334.787,17 Ha. Dengan pola penggunaan lahan yang didominasi tegal/kebun, menunjukkan sebagian besar wilayah Kabupaten Malang memproduksi tanaman pangan (lihat gambar 4). Pola permukiman di Kabupaten Malang umumnya mengelompok di sekitar pusat kota serta di sepanjang jalan utam yang menghubungkan pusat perdagangan dengan pusat pemerintahan. Namun, dalam perkembangannya, peralihan penggunaan tanah dari pertanian dan perkebunan dilakukan bertahap sesuai rencana tata ruang. Perkembangan kawasan perumahan meningkat dengan adanya pembangunan KPR/BTN yang tersebar di Kecamatan Dau, Singosari, Lawang, Batu, Kepanjen dan Pakis. Sejalan dengan itu, lahan pertanian subur semakin berkurang. Pada akhirnya, Pemerintah Kabupaten Malang menetapkan peraturan tentang pola penggunaan kawasan pertanian.
III.7 Infrastruktur Kota Malang
Memperhatikan kebutuhan dan pertumbuhan kota, dan sebagai upaya penyelesaian berbagai permasalahan berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur kota, maka sesuai kemampuan anggaran dilaksanakan dan direncanakan kegiatan pelayanan publik berupa pembangunan atau pemeliharaan infrastruktur kota meliputi jalan, jembatan, drainase, gorong-gorong, gedung daerah, fasilitas umum, dan sarana prasarana lingkungan permukiman lainnya, termasuk diantaranya penyediaan infrstruktur yang bersifat strategis yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan dalam skala kota bahkan regional serta secara spesifik mampu menstimulasi perkembangan kawasan-kawasan tertentu diantaranya Kawasan Timur Kota Malang yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lainnya.
III.8 Apresiasi dan Interpretasi Prasarana dan Sarana
1.      Prasarana Dan Sarana  Jembatan 




Terdapat 113 unit jembatan kecil dan besar di wilayah Kota Malang. Dari jumlah tersebut 93,6% jembatan dalam kondisi baik dan layak digunakan sebagai sarana transportasi. Berdasarkan data dari Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Malang, dari tahun-ketahun kondisi jembatan secara terus-menerus mengalami peningkatan.
2.      Prasarana Dan Sarana drainase
                       
Drainase perkotaan adalah  suatu ilmu dari drainase yang menghususkan mengkajian pada kawasan perkotaan.  Memasuki musim hujan, Kota Malang terus mengebut pembenahan drainase di ratusan titik di Kota Malang. Drainase yang ada di kota malang menggunakan system drainase terbuka, akan tetapi seiring dengan perkembangan pertumbuhan perkotaan yang semakin membutuhkan lahan yang banyak akan tetapi lahan yang bersifat statis, maka system drainase terbuka kota Malang perlu ditinjau kembali pemanfaatannya.
3.      Prasarana Dan Sarana Jalan






Total panjang jalan di wilayah Kota Malang adalah 873,26 kilometer dan setiap tahun mengalami perbaikan kondisi  jalan, sehingga sampai dengan tahun-ketahun jalan di kota malang dapat  dikategorikan 90% dalam kondisi baik. Bahkan jalan milik Propinsi Jawa Timur yang ada di Kota Malang dengan total panjang jalan 49,15 kilometer, kondisinya selalu terawat.
Kondisi jalan dan jembatan Kota Malang yang baik ini akan sangat memudahkan mobilisasi bagi angkutan darat para pelaku ekonomi. Disamping itu, kondisi jalan dan jembatan yang baik akan dapat menekan tingkat resiko kerusakan produk, bahan baku, maupun peralatan dalam perjalanan.
4.      Sarana Transportasi
                       
Sarana  transportasi  Kota Malang  didukung   dengan adanya prasarana jalan yang baik dan juga adanya  kereta api yang dapat juga digunakan sebagai sarana angkutan baik bagi orang maupun barang dari luar dan menuju Kota Malang. Terdapat 2 Stasiun Kereta Api di Kota Malang yaitu Stasiun Kereta Api Kota Baru dan Stasiun Kereta Api Kota Lama dengan beberapa kereta api komersial yang setiap hari melintas diantaranya Kereta Api Gajayana, Matarmaja, Rengganis, Penataran, dan Tumapel Utama serta beberapa Kereta Api angkutan barang dan BBM. Dengan demikian penyediaan sarana transportasi Kota Malang sangat memungkinkan bagi pemenuhan kebutuhan mobilisasi aktifitas ekonomi baik darat, udara, maupun kereta api.
5.      Prasarana Dan Sarana jaringan listrik



Adapun rencana pengembangan jaringan listrik dalam jangka waktu 5 tahun kedepan diarahkan untuk peningkatan pelayanan dengan mengembangkan jaringan yang telah ada, yaitu kawasan yang telah ada tiang listriknya tetapi belum ada jaringan kabelnya atau pada kawasan permukiman baru yang ada di wilayah pinggiran kota.
Terdapat 4 golongan pelayanan kebutuhan listrik yang dibedakan dalam kategori tarif yaitu Rumah Tangga, Publik, Bisnis, dan Industri.

6.      Prasarana Dan Sarana energi migas




Untuk pelayanan kebutuhan energi migas di Kota Malang terdapat Depot distribusi yang terletak di Jl. Halmahera Kecamatan Sukun, yaitu Depo Pertamina Wilayah V Malang yang merupakan pusat distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Depo Pertamina Wilayah V Malang mendapatkan suplai langsung dari Instalasi Surabaya Group (ISG) Surabaya melalui angkutan darat (truk tangki) maupun kereta api BBM. Penyaluran untuk konsumen dilayani oleh SPBU sebanyak 16 unit, Agen Minyak Tanah sebanyak 30 unit, dan Pangkalan Minyak Tanah sebanyak 543 unit yang tersebar di seluruh wilayah kota. Untuk keperluan industri langsung dilayani oleh depo.
7.      Prasarana Dan Sarana Air Bersih





Melimpahnya ketersediaan air di Kota Malang, merupakan potensi yang sangat krusial bagi aktifitas para pelaku ekonomi dan Pemerintah melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang senantiasa mengupayakan pencarian dan pengembangan sumber-sumber air baru. Bagaimanapun air memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan, sehingga ketersediaannya merupakan keharusan agar seluruh aktifitas kehidupan dapat berjalan dengan baik dan merupakan suatu karunia yang sangat besar karena Kota Malang memiliki potensi ini.
8.      Sarana Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Malang sangat memadai dengan banyak didirikannya Rumah Sakit Umum maupun Rumah Sakit Bersalin di 5 kecamatan baik milik Pemerintah maupun Swasta. Dengan melihat jumlah yang cukup banyak tersebut, menggambarkan tingkat persaingan yang cukup tinggi, sehingga masing-masing RS dan RSB berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Hal ini mencerminkan, bahwa secara umum pelayanan kesehatan di Kota Malang sangat memadai, karena RS atau RSB yang kurang bisa memberikan layanan prima, akan ditinggalkan oleh masyarakat. Pelayanan prima bukan saja didukung oleh SDM yang berkompetensi tinggi, namun juga didukung oleh peralatan medis modern.


9.      Prasarana dan Sarana Telekomunikasi



Perkembangan telekomunikasi di wilayah Kota Malang sangat pesat sehingga menjangkau hampir pada seluruh lapisan masyarakat. Menurut PT. Telekomunikasi Tbk. Kandatel Malang arah pengembangan telepon diarahkan pada :
·         Kawasan komersial, industri dan fasilitas pelayanan umum, serta kawasan pemukiman (rumah tangga). Pemasangan telepon umum diarahkan pada lokasi-lokasi strategis yaitu pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, pendidikan, kesehatan, perdagangan dan jasa, terminal, serta pemukiman.
·         Pengembangan Wartel dan Kiosphone diarahkan lebih kepada layanan sambungan jarak jauh dan internasional.
·         Untuk pengembangan Sentra Telepon Otomatis (STO), ditempatkan pada setiap Bagian Wilayah Kota (BWK).  
Sedangkan untuk layanan internet, setelah mengeluarkan produk Telkomnet Instan, PT. Telekomunikasi Tbk. Kandatel Malang saat ini menggulirkan produk baru layanan internet dengan nama Speedy dengan kelebihan dalam hal kecepatan mengakses informasi dari manapun. Era internet disambut kalangan pengusaha di Kota Malang dengan mendirikan warung Internet (Warnet) yang tersebar di seluruh kecamatan.
10.  Prasarana Dan Sarana Perbankan




Pemerintah Kota Malang telah mengupayakan peningkatan berbagai infrastuktur untuk kemudahan semua aktifitas terutama bagi aktifitas ekonomi antara lain yaitu :
 Secara umum kondisi perekonomian di Indonesia sampai dengan Desember tahun 2008 cenderung membaik, mengalami pertumbuhan sekitar 2,90% s.d. 3,40% dan sampai akhir tahun 2009 berkisar 4% hingga 5%. Perkembangan ini menunjukkan semakin membaiknya perekonomian di Indonesia sehingga menumbuhkan optimisme prospek ekonomi Indonesia kedepan. Dari penjelasan ini, salah satu yang paling diharapkan dan  menunjukkan kecenderungan membaik adalah dunia perbankan dalam hal fungsi intermediasinya.
11.  Fasilitas Sentra Perdagangan dan Pusat Perbelanjaan



Sentra perdagangan dan pusat perbelanjaan penunjang investasi yang ada di Kota Malang pada awalnya hanya terpusat di wilayah Malang Tengah, namun seiring dengan laju perkembangan penduduk, sentra perdagangan dan pusat perbelanjaan semakin menyebar ke bagian wilayah lain di Kota Malang. Sehingga sekarang, bukan sekitar Jl. Merdeka atau sekitar lokasi Alun-Alun saja yang ramai dikunjungi masyarakat, namun pusat keramaian sudah terbagi dan ramai pula dikunjungi masyarakat dalam dan luar kota.

12.  Perhotelan Kelas Bintang dan Melati dengan Pelayanan Prima






Keberadaan perhotelan di Kota Malang juga memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan daerah, hal ini terlihat dalam tabel Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto yang menduduki urutan kedua setara dengan perdagangan dan restoran. Dari kenyataan ini mencerminkan, bahwa usaha perhotelan dapat berkembang dengan baik. Perkembangan ini tentu saja tak lepas dari indikator tingkat hunian (occupancy) yang cukup tinggi dan fasilitas yang disediakan memadai sesuai dengan keinginan konsumen sehingga mampu memberikan pelayanan prima.
Disamping hotel berbintang terdapat fasilitas penginapan yang diarahkan untuk menjaring konsumen kalangan menengah ke bawah yaitu hotel-hotel melati dan home stay diantaranya Hotel Helios, Hotel Purnama, Hotel Armi, Hotel Serayu, Hotel Sampurna, Gress Home Stay dan masih banyak lagi yang berlokasi di tengah maupun di pinggiran kota. Tersedianya perhotelan dalam jumlah banyak dengan segmen pasar masing-masing dan fasilitas yang memadai sesuai kelasnya, akan memberikan kenyamanan baik bagi para pendatang, pelaku ekonomi/pebisnis, lembaga, dan pihak-pihak yang membutuhkan. Karena perhotelan bukan hanya sebagai fasilitas penginapan tapi dapat pula sebagai sarana rekreasi dan pelaksanaan suatu acara.
13.  Prasarana Olahraga Berskala Nasional dan Internasional






Prasarana olahraga di Kota Malang saat ini yang cukup menonjol dan berskala nasional adalah Gelanggang Olahraga (GOR) Ken Arok yang berlokasi di Jl. Mayjen Wiyono Kelurahan Buring Kecamatan Kedung Kandang. Sedangkan prasarana olahraga bertaraf internasional adalah pembangunan Malang Olympic Garden (MOG) yang merupakan pengembangan Stadion Gajayana yang terletak di tengah kota yaitu di Jl. Semeru. Sejak awal tahun 2006 pembangunan prasarana olahraga yang akan digabungkan dengan perhotelan dan pusat perdagangan (mall) telah dilaksanakan oleh investor. Terdapat juga prasarana dan sarana olahraga lainnya yang terbuka untuk umum.
Ketersediaan infrastruktur yang sangat memadai bagi aktifitas para pelaku ekonomi tersebut semakin dapat dirasakan manfaatnya apabila terdapat faktor-faktor lingkungan yang menunjang, sehat, dan kondusif bagi kegiatan investasi. Faktor-faktor lingkungan yang dapat dikategorikan sebagai lingkungan penunjang aktifitas ekonomi khususnya kegiatan investasi yaitu :
1.    Lingkungan Kemudahan Berusaha yang meliputi kebebasan berusaha dan kemudahan mendirikan perusahaan, penyederhaan administrasi birokrasi, hambatan formal/informal atas kegiatan ekspor-impor, pengakuan HAKI, serta daya saing daerah.
2.    Tingkat Pendidikan dan SDM yang menunjang, meliputi kesan tentang kualitas sistem pendidikan, ketersediaan tempat pendidikan (sekolah) dari tingkat dasar hingga pasca sarjana, serta tenaga kerja (kualitas, ketrampilan, kecakapan, penguasaan teknologi, dll).
3.    Lingkungan Kemasyarakatan yang mendukung, meliputi keamanan dan keselamatan publik, variabel informasi (kebebasan pers, kebebasan arus informasi, dan kebebasan berbicara), agama (kebebasan beragama dan ancaman ekstrimis agama), problem rasisme, resiko huru-hara, dan stabilitas kemasyarakatan
4.    Situasi Politik yang stabil, meliputi stabilitas pemerintahan dan politik, hambatan akibat perubahan politik, dan kualitas kebijakan pemerintah.












III. Apresiasi dan Interpretasi Untuk Kota Bandung
GEDUNG SATE KOTA BANDUNG
Bandung terletak diantara 1070 36' Bujur Timur dan 600 55' Lintang Selatan dengan ketinggian 791 m di atas permukaan laut. Dengan temperatur rata-rata 23.6° C dan curah hujan rata-rata 156.4 mm, kota Bandung memiliki iklim pegunungan yang lembab dan sejuk. Dengan posisi geografis seperti itu, maka posisi Kota Bandung sangatlah strategis baik dari sisi komunikasi, perekonomian maupun keamanan karena Kota Bandung tepat berada dalam poros jalan raya nasional ( perhubungan ) dan poros jalan raya ekonomi ( Utara - Selatan untuk komoditas agro dan Barat - Timur untuk komoditas barang dan jasa ).
Kota bandung memiliki wilayah seluas 16,729.50 km² ini terdiri dari 26 kecamatan dengan 139 kelurahan dengan jumlah penduduk sebesar 2,232,624 jiwa (hasil Susenas 2004), dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.2%. Kepadatan penduduk rata-rata kota Bandung adalah 13,346 jiwa/km²,
Kota Bandung saat ini telah dirancang untuk menjadi Pusat Distribusi Regional dimana Kota Bandung menjadi tempat berkumpulnya semua aktifitas perdagangan, industri dan jasa bagi daerah daerah sekitarnya Hal tersebut mengakibatkan Kota Bandung menjadi kota yang tidak pernah mati dan terhubung melalaui urat nadi struktur transportasi yang cukup baik dan memadai.
Kota Bandung menyediakan basis manufaktur yang baik, tenaga kerja yang produktif, memiliki sistem pemerintahan yang demokratis dan mendukung terciptanya iklim investasi yang sehat, kepastian hukum yang jelas untuk berinvestasi, infrastruktur kota kelas satu dan struktur biaya yang sangat kompetitif membuat iklim investasi di Kota Bandung cukup baik dan menjanjikan.
1.      Sistem Air Bersih
Kondisi Penyediaan Air Penyediaan air bersih Kota Bandung sebagian besar diperoleh dari :
·         PDAM Kota Bandung
·         Air Tanah
PDAM Kota Bandung saat ini memanfaatkan sumber air minum dari beberapa sumber yaitu :
·         Air Permukaan
1.      Sungai Cisangkuy,debit yang diambil ± 1,600 l/detik diolah diinstalasi Badaksinga
2.      Sungai Cikapundung, debit yang diambil ± 800 l/detik, 200 l/detik diolah di Instalasi Badaksinga dan 600 l/detik diolah di Instalasi Dago Pakar
3.      Sungai Cibeureum, debit yang diambil ± 40 l/detik, diolah di mini Treatment Cibeureum
4.      Sungai Cipanjalu, debit yang diambil ± 20 l/detik, diolah di mini Treatment Cipanjalu

·         Mata Air
Sumber air ini diambil dari beberapa mata air di daerah Bandung Utara dengan total debit 190 l/detik dan diolah di reservoir XI Ledeng
·         Air Tanah
Sumber air tanah ini diperoleh melalui proses pengambilan air dari beberapa sumur bor dengan kedalaman tanah antara 150-200 m dengan cara pengeboran (Sumur Artesis). Debit air yang diambil dari sumur artesis ini ± 100 l/detik
Sama seperti kota besar lain masyarakat kota bandung memakai PDAM sebagai sumber untuk mendapatkan air bersih. Di Kota Bandung, musim hujan atau musim kemarau tidak ada bedanya, air bersih sulit di dapat. Di beberapa daerah warga terpaksa menggunakan air comberan yang diolah, untuk mandi dan mencuci pakaian.
Dengan membagi total jumlah penduduk dengan total jumlah rumah yang ada, kita bisa mengasumsikan bahwa setiap rumah yang ada di Kota Bandung rata-rata berisi empat anggota keluarga. Dengan demikian, PDAM baru bisa memberikan akses air bersih dan murah secara langsung kepada 470.672 penduduk atau baru 20,7 persen dari total penduduk Kota Bandung. Jika dilihat dari perbandingan jumlah rumah yang sudah terpasang pipa PDAM dengan yang belum terpasang, maka bisa kita lihat bahwa di Kota Bandung hanya 20,7 persen rumah yang sudah menjadi pelanggan PDAM.
2.      Sistem Transportasi
Warga Bandung biasanya menggunakan angkutan kota atau yang lebih akrab disebut angkot daripada taksi sebagai transportasi di dalam kota. Selain itu, bus kota juga menjadi alat transportasi warga terutama di jalan-jalan besar dan untuk rute-rute yang panjang. Sama seperti kota besar diindonesia kondisi transportasi kota bandung sangat semerawut.
Angkot kota bandung
Sama dengan kota besar lainya rendahnya kesadaran warga Kota Bandung berkaitan dengan penggunaan sarana transportasi. Angkot yang berhenti dengan tidak mempedulikan pengguna jalan yang lain, begitu pula dengan pengendara sepeda motor yang tidak mau mengalah kepada angkutan kota ketika angkutan kota hendak menurunkan penumpang meskipun sopir angkot sudah memberi tanda tetap saja pengguna sepeda motor dengan “memaksa“ membunyikan klakson untuk mendahului angkutan kota dari sebelah. Bandung juga mempunyai dua stasiun kereta api terbesar, yaitu:
·       Stasiun Bandung yang setiap harinya melayani rute Bandung-Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang untuk kelas Eksekutif, Bisnis dan kereta komuter.
·       Stasiun Kiaracondong untuk Kelas Ekonomi dan kereta komuter.
Jalur kereta api kota bandung
Prasarana jalan di kota Bandung, antara lain, Jembatan Pasupati yang menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung. Jembatan itu melewati lembah Cikapundung. Panjangnya 2,8 km dan lebarnya 30-60 m. Pada 25 Juni 2005 jembatan ini resmi dibuka. Jembatan ini rencananya akan menjadi land mark kota Bandung yang baru.
Flyover kota bandung
Bandung dapat pula di capai melalui jalan tol Padaleunyi yang menghubungkan Padalarang, Cimahi, Bandung sebelah selatan, dan Cileunyi. Selanjutnya, jalan tol yang menghubungkan Padalarang dan Purwakarta (Cipularang: Cikampek-Purwakarta-Padalarang) sudah dibangun. Jalan tol Cipularang digabungkan dengan Padaleunyi dan dinamai Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi). Jalan tersebut mempersingkat perjalanan antara Jakarta dan Bandung. Dengan adanya jalur ini, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 1,5 jam sampai dengan 2 jam
Jalan tol bandung – Jakarta
  1. Sistem Persampahan
Salah satu sudut kota bandung
Kebersihan adalah sebagian dari iman mungkin kota bandung sudah tidak cocok lagi. kota bandung diindonesia dikenal juga sebagai kota sampah. Bagaimana perilaku warga terhadap sampahnya?. Melihat kota Bandung di televisi pada tahun 2007 kita pasti tercengang. Kota bandung yang kita kenal sebagai kota kembang ternyata hanyalah kota sampah, banyaknya tumpukan sampah dimana-mana sangat menganggu warga sekitar, sungguh sangat menggangu mata dan sangat bau.
Tapi kenyataanya yang dilihat bahwa timbunan sampah dikota bandung sudah jarang terlihat lagi, mungkin pemerintah kota bandung sudah membereskan masalah tersebut. Tapi, heran juga dibandung mempunyai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia bahkan mempunyai nama di Asia yaitu ITB yang kita tau mempunyai peneliti-peneliti hebat tidak ikut berperan dalam penanganan sampah buktinya banyaknya tumpukan-tumpukan sampah dibandung dulu atau mungkin pemerintah kota bandung pada waktu itu belum bekerja sama dengan perguruan tinggi tersebut menangani masalah sampah.
  1. Sistem Jalan
Sudut jalan kota bandung
Jalan dikota bandung sangat sempit sangat susah mencari parkiran dikota ini. permasalahanya sama dengan kota kota besar diindonesia diakibatkan pedagang kaki lima, angkot yang semerawut mengambil penumpang.
Keadaan Jalan dikota bandung sangat sempit dan juga sangat ranai. Bisa dibayangkan bahwa suatu daerah yang sangat kecil bisa menjadi sangat padat ketika di dalam wilayahnya didirikan lembaga pendidikan formal yang sangat terkenal dan diminati oleh banyak orang. Dari pagi sampai sore, keadaan jalan itu tidak akan pernah sepi.
Jalan cihampelas
Popularitas Cihampelas sebagai kawasan perdagangan jins pun berubah menjadi kawasan FO. Para pelancong pun mulai akrab dengan sebutan itu. Tak aneh jika setiap libur panjang atau akhir pecan banyak wisatawan domestik berdatangan ke Cihampelas bukan lagi bermaksud memburu busana berbahan jins yang kualitasnya bagus dan harga terjangkau, melainkan memburu beragam pakaian jadi sisa ekspor yang ada di sejumlah FO di sana.
Jika dibandingkan dengan jalan lain di Kota Bandung, Jalan Cihampelas utama lebih sempit. Sebagai konsekuensi Cihampelas menjadi salah satu kawasan wisata belanja, kemacetan parah pun kerap terjadi. Bisa begitu karena selain tidak disiplinnya angkutan umum yang "seenak udel" berhenti di sembarang tempat di Jalan Cihampelas, juga akibat keterbatasan ruang parkir.
5.      Sarana Ibadah
Bandung terkenal sebagai kota yang agamis, banyaknya kita jumpai tempat peribadatan baik bagi yang beragama Muslin maupun non-muslim.
Mesjid raya bandung
 kawasan permukiman yang cukup padat tersebut terus bertambah sarana-sarana peribadatan. Dengan banyaknya sarana ibadah, kehidupan keagamaan akan terus menigkat, yang pada gilirannya manghasilkan sumber daya manusia bertaqwa dan berkualitas, yang akan mangawal perjalanan kehidupan masing-masing. Apalagi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Qaf telah merancang berbagai aktivitas ibadah dan belajar, sudah barang tentu akan mampu meraih manfaat yang lebih optimal. “Bagaimanapun juga kita harus berlomba dalam memakmurkan masjid, bukan sekedar berlomba membangun masjid dengan disain dan arsitektur yang megah, karena masjid menjadi suatu tempat yang berpotensi besar dalam pembentukan insane bererilaku qur’ani”
  1. Sarana Kesehatan
Sebagai sebuah kota besar, Kota Bandung juga memiliki fasilitas umum yang memadai khususnya sarana kesehatan baik rumah sakit pemerintah maupun swasta.
  1. Sarana Pendidikan
Sebagai Kota Pendidikan, Kota Bandung memiliki institusi pendidikan tinggi teknik tertua di Asia Tenggara yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu di kota Bandung juga sudah banyak sekolah-sekolah yang berstandar SSI dan SSN.
Institute Teknologi Bandung
8.      Kunjungan di Institut Teknologi Bandung
Institute teknologi bandung adalah salah satu institusi paling tua diasia tenggara dan sudah barang tentu sarana dan prasarana yag ada di ITB sangatlah lengkap. Memasuki kawasan ITB banyak di temukan Pohon-pohon yang membuat suasana dikawasan tersebut sangat teduh dan nyaman untuk dilewati.
Sarana dan prasarana pendukung pembelajaran mahasiswa sangatlah lengkap seperti laboratorium penelitian, perpustakaan yang lengkap.
ITB
III.6 Apresiasi dan Interpretasi Untuk Kota Jakarta
 Sekilas melihat kota Jakarta  sangat mengesankan dengan gedung-gedung megahnya, jalan-jalan yang selalu di padati oleh penduduk yang melakukan aktifitas serta udaranya yang begitu panas. Namun dibalik kemegahannya dan kesibukan kotanya, Jakarta  menyimpan sejuta kejutan dan misteri termasuk infrastrukturnya. Contohnya jala-jalan tol yang hampir ada di seluruh kota Jakarta dan kebanyakan adalah fly over dan yang tentu saja tidak hanya satu tingkat tapi sampai 3 tingkat jalan yang melayang di udara, sangat modern. Tapi meskipun modern ternyata tidak menjamin kota Jakarta untuk tidak macet.
1.    Sistem Transportasi
Tidak semua kawasan dan jalan Jakarta beruntung seperti jalan Thamrin dan Sudirman: areal pejalan kaki yang nyaman kadang ditemani pohon rimbun, pemberhentian TransJakarta hanya selemparan batu, serta jembatan penyeberangan berkanopi. Bahkan pengendara sepeda pun bisa melenggang dengan bebas tanpa takut terserempet motor atau bis kota. Lampu penerangan jalan pun tercukupi, tanpa perlu khawatir melewati jalan tersebut pada tengah malam.
Tapi mari kita tengok daerah sejauh 10 kilometer dari Tugu Monas yaitu perempatan Daan Mogot, Cengkareng. Di daerah tersebut terjadi tambal sulam infrastruktur: ada yang baru, ada yang hilang. Terbaru adalah lintasan jalan tol lingkar luar tepat diatas perempatan sibuk Daan Mogot – Arteri Kapuk. Tak jauh dari situ, ada proyek penurapan kali mokervart sepanjang jalan Daan Mogot yang sebentar lagi tuntas, dan diharapkan selesai sebelum musim penghujan.
    Suasana kemacetan di jakarta
Kesemrawutan, apakah hal tersebut harus terjadi seiring dengan pembangunan. Tak hanya pada masa konstruksi, tak jarang setelah konstruksi pun kerap meninggalkan kesemrawutan. Seperti ketika deretan pohon di jalur pembatas MH Thamrin harus ditebang demi pelebaran jalan kontan mewariskan tutup-tutup saluran air yang tak rata dan banjir – dan akhirnya dibongkar lagi bulan ini.
2.    Sistem Persampahan


Problematika infrastruktur Jakarta tak hanya berhenti pada masalah tambal sulam akibat proses renovasi dan pembangunan, tapi juga pada banyaknya elemen infrastruktur dan pelengkap yang harus ditampung, mulai dari lampu jalan, lampu lalu lintas, rambu lalu lintas, drainase, kabel listrik, telepon, gas, pejalan kaki, tempat sampah, panel listrik, jembatan penyeberangan hingga papan reklame dan masih banyak lagi. Tak jarang pula infrastruktur contohnya jalur pejalan kaki pun diinvasi oleh pedagang kaki lima, motor, tempat parkir hingga terminal bayangan. Infrastruktur jalan di Jakarta pun dituntut harus mampu melayani berbagai macam kepentingan, mulai dari TransJakarta, mobil pribadi, motor, angkutan umum hingga sepesa dan pejalan kaki.
Jakarta bagaikan sang artis kecanduan operasi plastik. Namun selama ini warga mungkin kerap melirik dan menuduh ketidakbecusan pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat dalam mengkoordinasi pekerjaan lapangan. Tapi jika dikembalikan kepada diri sendiri, maka carut marut dan cantiknya infrastruktur pun tergantung dari warganya, apakah mereka pun mau menjaganya? Apakah mereka rela tidak parkir di trotoar, apakah pengemudi motor rela tidak naik trotoar di kala macet, apakah pedagang kaki lima rela tidak berjualan di trotoar menutupi saluran air, apakah warga menahan diri untuk tidak membuang sampah di drainase, apakah pengguna mikrolet rela turun di halte resmi dan bukannya turun di sembarang tempat, apakah pemilik gedung tidak semena-mena membuat jalan pintu masuk keluar mobil seenaknya dan merusak trotoar, apakah rela tidak mengebor air tanah seenaknya. Dan jika pemerintah berupaya, warga rela dan berpartisipasi, niscaya infrastruktur Jakarta memiliki masa depan lebih cerah.
Kawasan pinggiran Jakarta
Kawasan pinggiran sebenarnya berjasa menjadi penyangga Jakarta. Kawasan ini menampung banyak penduduk yang bekerja di Jakarta dan membuat Ibu Kota tidak harus menanggung banyak beban sosial dan fisik. Namun, kawasan pinggiran justru seakan terlupakan dan infrastrukturnya dibiarkan telantar.
Tidak pernah bertambahnya luas dan membaiknya kualitas jalan adalah salah satu contoh betapa kawasan pinggiran seperti semakin dilupakan. Bukan hanya jalan, infrastruktur drainase dan air bersih juga sering terabaikan.
Pemerintah kota dan kabupaten yang menguasai kawasan pinggiran begitu mudah memberikan izin pendirian perumahan karena akan mendapat retribusi dan pajak yang besar. Namun, mereka tidak menyediakan jaringan drainase yang terintegrasi di dalam sebuah wilayah.
Jaringan drainase dalam kondisi baik hanya berada di dalam perumahan. Namun, di luar lingkungan perumahan, jaringan drainase banyak yang tidak tersambung. Di Gunung Putri dan Cileungsi, misalnya, setiap hujan lebat akan mudah muncul genangan di jalan karena buruknya drainase.
Jaringan air bersih lebih buruk lagi. Di sebagian besar Tangerang Selatan tidak ada jaringan air bersih. Sejak kawasan itu masih bergabung dalam Kabupaten Tangerang sampai dimekarkan menjadi kota tersendiri, jaringan pipa air bersih tidak pernah dibangun.
Penuh bangunan
Selain minus infrastruktur, kawasan pinggiran juga kekurangan ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air. Setiap lahan yang dikuasai pengembang hampir selalu dipenuhi dengan bangunan perumahan sehingga air tidak mudah terserap tanah. Hanya sedikit lahan yang dialokasikan sebagai taman atau ruang terbuka hijau.
Di Bekasi, Bogor, dan Tangerang Selatan, pengembang juga tidak ragu-ragu menguruk situ dan rawa untuk dijadikan perumahan. Tanpa kawasan resapan dan penampungan air yang memadai, kawasan pinggiran mudah tergenang air di beberapa kawasan.
Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, mengatakan, minimnya infrastruktur dan pembangunan perumahan yang berlebihan di kawasan pinggiran Jakarta adalah cermin fenomena perluasan kota (urban sprawl) yang tidak terkendali. Buruknya infrastruktur di kawasan pinggiran luar Jakarta diperparah dengan tidak terhubungnya jaringan infrastruktur di Jakarta.
Hampir semua infrastruktur di dalam Jakarta yang dalam kondisi baik tidak terhubung ke luar Jakarta. Jaringan pipa air bersih dari PT Aetra Air Jakarta, misalnya, tidak sampai terhubung ke Bekasi.
Bagi pemerintah kabupaten dan kota induk, pembangunan di kawasan pinggiran tidak terlalu menarik untuk dilakukan. Kawasan itu sering dinilai tidak memberikan banyak kontribusi bagi pemerintah induknya.
Selain itu, penduduk di kawasan pinggiran sering tidak dianggap sebagai warga kota atau kabupaten sepenuhnya. Aktivitas bekerja dan belanja di Jakarta membuat penduduk kawasan pinggiran dianggap tidak banyak memberikan kontribusi bagi kabupaten atau kota induk.
Kawasan pinggiran tumbuh hampir tanpa rencana yang jelas. Rencana tata ruang wilayah mungkin ada, tetapi tidak pernah menyentuh sampai ke rencana induk pembangunan infrastruktur.
Rencana tata ruang wilayah megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur, yang seharusnya dapat mengintegrasikan pembangunan di kawasan pinggiran dengan Jakarta dan dengan kabupaten dan kota induk, juga tidak mengakomodasi masalah infrastruktur.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga perlu mencari format untuk memajukan kawasan pinggiran, bersama dengan pemerintah kota dan kabupaten tetangganya. Jika ketergantungan kawasan pinggiran ke Jakarta berkurang, beban yang harus ditanggung Ibu Kota juga semakin kecil.
Tanpa suatu kemauan politik yang baik, kawasan pinggiran akan terus terpinggirkan dan potensinya tidak akan menguntungkan wilayah mana pun.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar